JellyPages.com

Sabtu, 17 Januari 2015

Sesal.



"Ketika lelakimu memperdengarkan rekaman ini. Aku mungkin sudah tidak di samping kamu lagi. Awalnya, aku ingin mengungkapkan ini lewat surat. Tapi, seperti yang selalu kamu bilang, tulisanku seperti jejak kaki ayam di lumpur basah. Berantakan dan tidak kamu mengerti. Aku, pengidap disleksia, Ra. Itu yang kamu tidak tahu dariku dan tidak pernah kamu tanyakan bahkan kamu cari tahu. Sejak kecil dan bawaan lahir. Jadi, tidak usah merasa bersalah dan mengkasihani aku. Ijinkan aku sedikit mengenangmu, Ra. Sedikit saja. Baiklah, kumulai dari siang hari di tanggal sembilan belas oktober, sebulan yang lalu, di hari ulang tahunmu, kan? hari itu matahari tidak begitu terik, semilir angin membuat sejuk suasana, kamu duduk sendiri disana. Di  bukit kecil yang dikelilingi ilalang kering yang tinggi  sebatas dadamu. Tempat pertama kalinya aku melihatmu sedang menunduk, tiga tahun yang lalu. Entah apa yang sedang kamu tulis di diary  berwarna pink kesayanganmu. Tanganmu begitu cekatan mengerakkan pena berwarna senada. Sesekali tangan lembutmu mengarah ke wajahmu. Menyeka airmatamu.
Siang itu, entah untuk yang ke berapa kalinya aku melihatmu menangis seorang diri di sana, dan aku sedih. Tahukah kamu? airmata itu menyamarkan wajah cantikmu. Tanpa sepengetahuanmu, aku dan Chika memandangimu dari kejauhan. Rencananya, aku ingin kusulap tempat itu dan memberikan sedikit kejutan kecil untukmu. Tapi, tidak jadi kulakukan. Kamu meninggalkan tempat itu dan tidak menyadari diary mu terjatuh. Diary itu di tanganku, kurawat, dan maaf.. kubaca. Sedikit. Aku tidak terkejut membaca tulisanmu. Justru, Chika, temanku yang bawel tapi tomboy itu yang terkejut dan bertanya padaku.’Cewe belum move on lo pacarin?’. Aku tertawa mendengar dia bertanya seperti itu. Aku tidak menghiraukannya. Setelah itu, aku dan Chika pulang, ke rumahku. Kami bermain playstation setelah makan siang. Aku diam, Chika juga. Lalu, Chika bilang.’Kalo bukan bego, lo homo. Mau-mau nya pacaran sama cewe belum move on.’
Aku tertawa kali ini. Ra, jangan percaya ucapan Chika. Aku bukan homo. Sungguh. Kamu juga tahu, kan?.
Chika bilang, aku terlalu baik buat kamu. Sama, kan, dengan pertanyaan kamu pas aku bilang aku mau jadi pacar kamu dan menata hati kamu yang katamu sudah hancur berkeping-keping. Dan jawaban aku juga masih sama.
‘Namun tak kaulihat, terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan. Namun kasih ini silakan kau adu. Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya,’ saat itu, hanya kunyanyikan saja, tidak dengan petikan gitar seperti yang kulakukan untukmu.
Dan, malamnya, kubaca diary mu dengan bantuan senter kecil dari handphone ku. Sedikit. Malam itu, malam ulang tahunmu, ketika hujan deras dan listrik di rumahku mati. Aku sadar, bukan aku juaranya.
Sejak saat itu kucari dia, si kepingan hatimu yang hilang. Sampai akhirnya, aku menemukannya. Aku amati wajahnya, pantas saja kamu susah berpindah hati. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Dan membawakannya ke hadapanmu saat ini.
Selamat ulang tahun yang belum sempat kuucapkan untuk kamu. Maafkan karena telah tiba-tiba menghilang dan muncul dengan cara seperti ini. Kukembalikan dia untuk melengkapimu dan sebagai hadiah ulang tahun untukmu. Ketika dia datang dan memperdengarkan ini sambil memberikanmu diary milikmu yang hilang. Aku, bukan kekasihmu lagi. Ra, terimakasih untuk kesediaanmu memperbolehkanku mengobati hatimu. Meskipun gagal, setidaknya aku pernah mencoba.
Dari aku, Diko."
***
"Ini dari Diko,"lelaki itu mengulurkan buku diary yang sudah kubungkus rapi dengan kertas kado bergambar princess Rapunzel  berwarna pink kesukaannya.
Ia menerimanya sambil meneteskan airmata. Entah apa yang sedang ia tangisi, ucapanku atau terlalu bahagia kepingan hatinya telah kembali. Ia membuka bungkusan itu perlahan, sedikit demi sedikit hingga buku diary itu terlihat.
"Aku kira kamu udah lupain aku. Setahun, Ra. Waktu yang cukup lama buat kamu lupain aku. Andai saat itu aku juga bisa punya kepercayaan yang sama dengan kamu, kalau pacaran jarak jauh bisa baik-baik saja. Tapi, aku bukan cowok yang bisa dengan itu, aku udah bilang dan kamu tau itu. Sampai akhirnya, Diko telefon aku dan jelasin tentang kamu. Dia minta aku datang hari ini, awalnya aku nggak mau. Tapi dia mati-matian paksa aku. Aku liat pengorbanan dia saat itu. Aku nggak yakin akan ngelakuin hal yang sama kalau aku jadi dia. Melihat kamu hari ini, mendengar apa yang Diko ucapin tadi, dan kenyataan yang sedang aku jalani disana. Namanya, Annetha, satu bulan yang lalu aku tunangan dengan dia. Ra, kamu masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya. Diko emang urakan, dan itu bukan tipe kamu yang menyukai lelaki rapih sepertiku. Tapi, dia punya kebesaran hati yang aku nggak punya. Maaf, untuk hati kamu yang berantakan karena aku, dan juga untuk setiap airmata kamu. Aku pamit,"lelaki itu beranjak dari kursi taman yang ia duduki, lalu berjalan membelakangi Sara yang sedang bercucuran airmata tanpa sekalipun menoleh. Ia terus berjalan selangkah demi selangkah sampai menghilang dari pandangan matanya.
Sara masih terus menangis, kali ini, entah apa dan siapa yang sedang ia tangisi.
***



Bertemu Titik (.)



Terkadang, kita akan menyerah dengan sendirinya pada hal yang kita perjuangkan. Kamu, termasuk salah satunya.

Pada akhirnya, aku menyerah, menyerah untuk satu langkah lebih dekat dengan kamu. Menyerah pada kata cukup yang selalu kusandarkan padamu. Cukuplah aku mengabadikan kamu pada setiap kata yang kurangkai menjadi paragraf lalu kemudian menjadi sebuah cerita.

Sampai akhirnya, aku ingin terbebas. Terbebas untuk tidak berotasi hanya pada kamu. Aku ingin terbebas dan membebaskan diri. Bukan untuk lari dan melupakanmu. Aku ingin bebas, dan membiasakan hati.

Kemudian mengosongkan hati yang seolah terisi namun sebenarnya kosong, yang di huni sebatas namanya saja, bukan hatinya.

Lalu, menemukannya dengan titik (.)

Minggu, 21 Desember 2014

Rumah.

Siang itu, aku masuk ke sebuah kedai kopi kecil tepat di sebelah sebuah bank swasta. Jam makan siang seperti ini biasanya para karyawan bank itu mampir ke kedai kopi ini untuk makan siang atau sekadar minum segelas capucinno dan sepotong red velvet saja. Aku melangkahkan kakiku pada satu meja tepat disebelah jendela yang langsung menghadap jalan raya. Di pinggiran jendela itu berjejer botol-botol kosong berwarna-warni dimulai dari warna hijau, merah, coklat dan hitam. Cantik sekali ketika botol-botol itu terkena sinar matahari. Aku membuka tasku dan mengambil laptop di dalamnya. Tak lama, handphoneku bergetar, pesan dari Tira, sahabatku. Ia memberitahukanku bahwa ia akan telat setengah jam untuk bisa sampai di tempat ini.
Ok. jawabku membalas pesan Tira.
Aku membuka pekerjaanku yang hampir menyentuh deadline. Aku mulai menarikan jemariku di atas keyboard. Membiarkan imajinasiku bermain-main. Lalu, tak lama pesananku datang. Secangkir Espresso Macchiato dan Chocolate Baklava.
"Coklat yang manis buat mbak Laia yang manis,"ujar salah satu waiter kedai kopi ini. Ia meletakan pesananku di samping laptopku dan juga segelas ice greentea favorit Tira.
"Loh, saya nggak pesan greentea, kan?"
Ia tersenyum."Mbak Tira, tadi pesan lewat BBM."
"Dasar, Tira. Oke mas, makasih, ya."
Ia tersenyum lagi."Sama-sama, mbak. Selamat menulis. Saya tunggu, loh, buku ketiga nya. Kalo udah terbit, saya dapat tanda tangan mbak Laia, ya."
"Saya kasih gratis untuk, mas,"jawabku.
Ia tampak bahagia sekali mendengarnya. Sejak buka dua tahun yang lalu, kedai kopi ini menjadi favorit untuk aku dan Tira. Tempatnya tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu ramai. Ornamennya kayu membuat kesan hangat, bercampur dengan aroma kopi yang sedang di roasting. Dan yang terpenting, di dalam kedai tidak di perbolehkan ada asap rokok. Pemiliknya menyediakan tempat smoking area di sudut luar kedai. Pelayanan di sini juga sopan, beberapa dari mereka adalah mahasiswa yang kerja paruh waktu di sini. Dan, yang tadi membawakan pesananku, dia adalah pelayan yang telah bekerja di sini sejak awal kedai ini di buka. Ia hanya lulusan SMA tapi kegemaran membacanya tak bisa dianggap sepele. Sadar akan keterbatasannya yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia menyisihkan sepuluh persen dari gaji nya untuk membeli buku. Buku apapun ia baca, di mulai dari komik hingga buku tentang filsafat yang tidak ia mengerti. Tapi, ia tak sungkan untuk bertanya. Kemauan untuk belajarnya memang patut diacungi jempol. Aku pernah bertanya, kenapa tidak menabungkan saja sepuluh persennya untuk melanjutkan kuliah. Jawabannya sederhana."Saya kuliah dengan cara saya sendiri, membaca menurut saya adalah kuliah. Buku adalah dosen saya. Bukannya sama saja, tujuan akhirnya adalah mendapat pengetahuan?"begitu katanya. Oh, ya, aku lupa. Kuberitahu, namanya, Jejaka, tapi dia lebih sering dipanggil Jaka.
***
Aku terus memainkan jemariku diatas keyboard sambil sesekali aku menaikkan letak kacamataku dan memandangi sekitar. Dari pintu utama seorang wanita memamerkan senyum lebarnya kepada dua orang temannya yang berada didepan mejaku. Lalu, ia berlari seakan tak sabar ingin bercerita sesuatu kepada mereka. Aku memperhatikan mereka bertiga sambil meminum sedikit demi sedikit Espresso Macchiato pesananku. Ia duduk lalu memberikan sebuah undangan berwarna emas kepada dua temannya. Senyumnya masih saja mengembang diwajah cantiknya.
"Astaga, Bila,"ujar salah satu temannya yang tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
Sedangkan teman yang satunya hanya bisa menggelengkan kepalanya menandakan rasa tak percayanya.
"Kok, kaget gitu?"tanyanya.
Salah satu temannya yang memakai kerudung berwarna pink menggenggam tangannya."Yakin? Menikah itu keputusan besar, Bila!"
Wanita bernama Bila itu mengangguk."Yakin seratus persen."
"Gila lo, Bi. Karir lo lagi di puncak dan lo mutusin nikah?"tanya temannya yang berambut panjang dan berwarna coklat terang.
Bila sedikit kecewa melihat respon kedua temannya."Salah, ya?"
Temannya yang memakai kerudung memajukan posisi duduknya dan menggenggam tangan kanan Bila dengan kedua tangannya."Nggak salah, Bi. Tapi, kita ini kenal dari SMP dan kita semua tau, lo bukan orang yang bisa ambil keputusan besar secepat ini. Lo sendiri yang bilang, diantara kita bertiga mungkin lo yang terakhir nikah. Lo bilang, lo mau fokus sama karir lo, mimpi-mimpi lo dan semua hal yang belum lo capai."
"Nikah bukan pacaran, Bi. Lo terikat status dan itu melibatkan janji lo sama Tuhan.”
Wajah Bila tertunduk. Temannya yang berkerudung itu menegakkan kepala Bila dengan kedua tangannya."Seberapa yakin lo mau nikah dan kenapa lo mau jadi istri dia?"
Bila menghela napas dan bergantian menatap kedua teman-temannya."Gue cuma butuh dia yang bisa jadi rumah untuk gue. Dia yang bisa jadi tempat untuk gue selalu pulang. Dia yang menjadi alasan kenapa gue harus pulang. Dia, alasan kenapa gue berani ambil keputusan ini."
***
Pemandangan di hadapanku berubah menjadi lebih santai. Senyum mereka saling bersautan satu dan lainnya. Sambil menyantap makan siangnya, mereka tak henti-hentinya meledek Bila yang baru saja menerima telefon, kutebak itu dari calon suaminya. Lalu, tak lama mereka meninggalkan kedai kopi sambil terus tertawa.
Mataku kembali tertuju pada laptopku. Lalu, teringat perkataan wanita bernama Bila tadi."Gue cuma butuh rumah. Rumah yang menjadi tempat untuk selalu pulang dan alasan untuk kenapa harus pulang."
"Laia."
Teriakan Tira menghamburkan konsentrasiku. Ia berlari menghampiriku lalu duduk di hadapanku. Tak menunggu lama, ia meminum greentea pesanannya yang sudah ia pesan dari setengah jam yang lalu.
"Hei, coba deskripsikan rumah menurut lo."
Tira memangku dagu dengan kedua tangannya."Rumah?"Ia masih berpikir."Tempat lo mesti pulang."
"Damar, rumah lo bukan?"tanyaku seolah sedang mengintrogasi Tira.
"Maksud lo?"
"Kenapa lo suka sama Damar dan ngabisin empat tahun lo cuma untuk dia?"
Tira merasa aneh dengan pertanyaanku."Kenapa lo suka sama Espresso macchiato? padahal lo tau rasanya pahit. Tapi lo bilang diujung rasa pahitnya ada sisi lembutnya dari susu, kan? kenapa nggak latte  macchiato yang lebih manis karena espresso-nya lebih rendah? Lo pernah bilang macchiato ngajarin lo tentang hidup yang nggak cuma manis, kalau hidup itu harus seimbang. Begitupun dengan gue, Damar itu penyeimbang gue. Damar macchiato gue,"jelasnya.
Aku menutup laptopku.
"Jadi, Damar rumah lo?"
Tidak ada jawaban dari Tira. Wajahnya terlihat ada sedikit keraguan. Entah apa, tapi ada gurat yang seakan menjelaskan bahwa ia sedang bingung.
"Astira Swavira, maukah kamu menjadi rumahku. Jadi macchiato-ku?"
Suara itu berasal dari belakang Tira. Lelaki bernama Damar yang bertanya. Sedari tadi ia mendengarkan obrolan aku dan Tira tanpa sepengetahuan kekasihnya.
Tira menoleh ke arah lelaki yang kini duduk di sampingnya. Wajahnya berubah. Tak ada lagi kebingungan di wajahnya yang kini berubah menjadi semu kemerahan.

Kau percaya takdir?
aku, percaya.
Dan, menjadikan seseorang sebagai rumah, perlu takdir, juga percaya.
***

Selasa, 25 November 2014

Siapkah Kamu, Siapkah Aku?

Siapkah kamu, jika suatu saat nanti ada yang lebih mampu membuatnya bahagia , dari pada kamu?
Siapkah kamu, jika suatu saat nanti jari yang ia sematkan cincin, bukanlah jarimu?
Siapkah kamu, jika suatu saat nanti yang dipanggil ibu oleh anak-anaknya, bukanlah kamu?
Engkau yang Maha membolak-balikkan hati, ikhlaskan aku jika “kamu” itu adalah aku.