JellyPages.com

Kamis, 03 April 2014

Tentang Dia, Si Tuan yang Mulai Berekspresi

#NowPlaying: My Confession - Afgan. Percayalah, apa yang Tuhan rencanakan adalah yang terbaik. Dan, dari semua rencana indah itu. Dia, mungkin termasuk kedalamnya. Aku tahu, bahkan terlalu tahu tanpa harus mereka beritahu untuk perasaan yang kupunya untuknya. Dia yang tak pernah kulihat langsung. Dia yang hanya kulihat beberapa minggu ini dilayar kaca. Dia yang tak pernah tahu sedang digilai. Dan, mungkin ini adalah bagian dari rencanaNya. Ketika "mata" ku berada dalam satu tempat magang yang sama dengannya. Sungguh, itu saja sudah membuatku melega. Setidaknya, meski bukan dengan mataku sendiri. Ada "mata" yang siap mendeskripsikannya tentangnya hari ini padaku, "mata" yang seringkali membuatku ingin sekali bertukar tempat. Sebatas itu rencanaNya? Tidak! RencanaNya melampaui kata "cukup" yang kusandarkan untuknya. Ini sudah jauh dari kata cukup. Aku pernah berkata, cukup untukku sebatas tahu sedang apa dia hari ini melalui "mata" ku dan linimasa nya, sudah. Melihat gerak-geriknya dari deskripsi "mata" ku dan foto yang ia share di akun instagramnya. Tapi, sekali lagi, Tuhan terlalu baik padaku, Dia suguhkan wajah tanpa ekspresi yang membuatku tersenyum bahkan tertawa setiap kali melihatnya di program itu. Tahukah? karenanya, aku seperti menjilat ludahku sendiri. Bagaimana tidak, berminggu-minggu aku menjadi penonton setia untuk sebuah program tv yang tak pernah kusukai sebelumnya. Program yang menurutku tak penting di jam prime time. Tapi, semua berubah, seketika program itu menjadi begitu penting untukku, ketika ada dia yang selama beberapa detik menghiasi layar tv ku. Hanya beberapa detik, bahkan jika berkedip saja aku bisa kehilangan moment untuk melihatnya. Beberapa detik yang kutunggu lima jam setiap malamnya. Percayalah, tak ada yang lebih membahagiakan ketika melihatnya dilayar kaca saat itu. Dan, percayalah, tak ada yang lebih mengkhawatirkan ketika tahu dia berpartner dengan seorang wanita. Cemburu? Siapa aku boleh cemburu. Sungguh, aku menghindari perasaan semacam itu. Biarlah dia dan hatinya yang menentukan kehati wanita mana dia akan menyandarkan hatinya. Pada akhirnya, awal adalah proses menunggu akhir. Sayangnya, proses itu terlalu cepat berjalan. Kamis, 3 April 2014, dia menuliskan kalimat "Last day" di linimasa nya. Tanpa harus aku tanya langsung dengannya, atau bertanya pada "mata" ku. Aku tahu, hari itu adalah akhir masa tugasnya. Dan artinya, berakhir juga kesempatan aku untuk bisa melihatnya. Melihat bagaimana cara dia melengkungkan senyumnya, menggerakkan tubuhnya, dan melangkahkan kakinya. Setelah ini, tak pernah ada yang tahu apa rencanaNya selanjutnya. Seperti yang selalu aku katakan."Tuhan, terserah Engkau sajalah." Aku tak ingin memaksa untuk bisa berkenalan dengannya bahkan menjadi seseorang yang spesial untuknya, tidak!. Biarlah semua berjalan seperti seharusnya. Berjalan tanpa ada ambisi dan hanya cukup saja. Sampai nanti pada akhirnya, dia lulus dan "mata" ku kehilangan kata untuk mendeskripsikan dia padaku. Biarlah, aku tak pernah meminta lebih. Akan ada saatnya, aku bisa melihatnya tanpa sekat, insyaallah. (Selamat menyusun tugas akhir, Tuan yang mulai berekspresi. Dari seseorang yang telah dibuat gila olehmu. Tapi, tak ingin kamu tahu).

Senin, 24 Maret 2014

10 menit

Peron stasiun Bandung masih sama seperti satu tahun yang lalu. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari Bandung. Melupakan juga meninggalkan serpihan hatiku yang mungkin masih berserakkan hingga saat ini. Satu tahun, nyatanya tak pernah bisa membereskan semuanya. Dan, hari ini, sebuah tekad mengantarkanku pada kota ini lagi. Sesak itu rasanya masih ada. Belum sehari aku menginjakkan lagi kakiku disini. Tapi, kenangan itu rasanya begitu cepat kembali. Mencoba menggelitik ingatanku pada seseorang yang tidak pernah sadar telah memorak-porandakan hatiku. Seseorang yang selalu ingin aku lupakan selama setahun ini. Seseorang yang akupun tidak pernah sadar telah menyelinap masuk kehatiku dan terkunci, tanpa pernah tahu bagaimana cara membebaskannya. "Jan!" seseorang memecah lamunanku. Suara itu, suara yang tidak mungkin aku lupakan. Suara yang setahun ini hanya kudengar dari percakapan via telefon. Si saksi hidup betapa hancurnya aku ketika itu. "Yara!"Aku memeluknya sangat erat. Sungguh, gadis menyebalkan ini begitu aku rindukan. Wajah kekanak-kanakkannya yang selalu ceria itu sungguh membuatku ingin berada disampingnya. Aku melepaskan pelukanku lalu memandangi wajahnya, masih sama. Wajah yang seakan hanya mengetahui satu rasa, bahagia. Bertahun-tahun menjadi sahabatnya, nyaris tak pernah aku melihatnya bersedih. "Jahat! Jahat! Jahat!"Dia memukuli lenganku cukup keras. "Hey, sakit!" Dia membereskan poninya yang berantakan ke samping kiri. "Jahat lo baru ke Bandung sekarang, nggak bilang lagi. Telefon gue pagi-pagi, langsung kasih kabar ada di Bandung,"Cerocosnya sambil memasang wajah kesal namun tetap saja terlihat imut. Aku menghela napas."Namanya juga suprise, Ra. Masa gue kasih tau lo." Dia berdiri menghadapku dalam jarak sekitar satu meter. Memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah apa yang sedang dia perhatikan dariku. Tak lama, tatapannya mengarah kepada wajahku, cukup lama dia memandangiku."Ke Bandung lagi, berarti artinya lo udah lupa sama dia?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari bibir mungilnya. Pertanyaan yang selama perjalanan tadi coba aku cari apa jawabannya. Aku hanya dapat tersenyum. Sungguh, sebenarnya aku tidak ingin mengaku padanya jika tidak pernah ada yang berubah dengan perasaan ini. *** Sekuat apapun aku mencoba menyembunyikan masalahku. Di hadapan Yara, semuanya seakan melebur. Ini juga yang aku rindukan, bisa bercerita sepuasnya dengannya tanpa perlu memikirkan sinyal yang terkadang tak bersahabat. Aku rindu cara dia menyimak setiap keluh kesah yang aku ceritakan padanya. Yara adalah pendengar yang baik. Si pemberi nasihat yang tidak menggurui. "Gue tau lo nggak pernah bisa lupain Ken."Tersebut juga nama itu dari mulutnya. Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu harus berbuat apa ketika mata ini kembali bisa menatapnya. Aku takut kalau perasaan ini kembali tak bisa kukendalikan. Aku tak berani, untuk semakin dibuat jatuh cinta dengan lelaki itu."Besok gue balik jam 6.50, Ra." Mata itu kembali memandangiku. Kali ini, ada gurat kecewa yang terpancar dari mata bulatnya."Terserah lo, deh." Dia membalikkan badannya dan memejamkan kedua matanya. Malam memang sudah terlalu larut. Tapi, dia terpejam bukan karena telah mengantuk. Aku tahu, dia sedang menahan emosinya karena kecewa padaku. Yara, si ceria yang tak pernah ingin marah kepada orang lain. *** Perjalanan ini bukanlah tanpa perencanaan. Hari ini, tepat satu tahun yang lalu aku meninggalkan Bandung. Di tanggal yang sama. Sayangnya, setahun lalu, hujan turut mengantarkan kepergiaanku. Tapi, hari ini, matahari begitu cerah menyinari kota Bandung. Aku menunggu sendiri di bangku tunggu sambil sesekali membaca buku yang tidak sempat kubaca selama dikereta kemarin. Yara nampaknya masih kecewa denganku, meskipun dia tidak mengakuinya, kali ini aku menemukan ekspresi lain diwajahnya. Biarlah, aku tahu kecewanya tak akan berlangsung lama. Seseorang duduk disampingku."Maaf, asap rokoknya,"kataku. Dia mematikan rokok ditangan kanannya. Lalu,meminta maaf padaku. Aku memangguk. Tapi, suara itu, suara yang begitu aku kenali dan tidak bisa aku lupakan. Aku menoleh sedikit kearahnya."Ken?" Dia tersenyum memamerkan deret giginya yang kini terlihat lebih rapi. Tidak ada lagi kawat gigi yang melingkar di giginya."Jahat lo, ninggalin Bandung nggak bilang gue. Lo kayak ditelen bumi tau. Nomer handphone lo nggak aktif, jejaring sosial lo juga diactive. Lo kemana aja, Jan?" Aku terus memandanginya. Seseorang yang sulit sekali aku lupakan. Seseorang yang kucintai diam-diam. Seseorang yang membuatku hancur ketika didepan mataku, dia mencium perempuan lain."Gue.." Dia menyibakkan rambutnya yang tak segondrong setahun lalu. Kini rambutnya tersisa sebatas telinganya membuat wajah putihnya semakin terlihat tampan."Lo jahat, pergi tanpa pernah gue tau lo dimana. Kalo Yara nggak sms gue, gue pasti akan kehilangan lo buat yang kedua kalinya,"ujarnya lalu menoleh kearahku yang tidak berani menatapnya."Stay di Bandung, Jan. Dan, disini,"Lanjutnya sambil mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke dadanya."Maaf gue nggak pernah berani bilang jujur sama lo. Gue ngerasa nggak pantas buat lo, Jan. Lo dan semua hal tentang lo yang buat gue mundur satu langkah dari lo. Ketika lo pergi, keberanian itu datang. Tapi, gue kehilangan lo,"Dia memegang bahuku dan menghadapkan kepadanya."Lo tau, Jan. Rasanya apa?"tanyanya. Mataku mulai berkaca-kaca."Sakit! rasanya sakit!"jawabku. Dia hanya mengangguk. "Tapi lo, lo dengan semua wanita disekeliling lo buat gue mundur nggak cuma satu langkah. Kalo lo bilang gue jahat. Gue bilang, lo lebih jahat. Gue lebih sakit dari lo, Ken. Kenapa gue pergi? itu karena lo,"airmataku akhirnya terjatuh. Dia bergeming, matanya terlihat melirik jam di tangan kirinya."Maafin gue, Jan. Lo punya waktu sepuluh menit sebelum lo pergi ninggalin gue lagi. Sepuluh menit yang mungkin bisa lo pake buat mikir mau maafin gue apa nggak. sepuluh menit yang bisa lo pake buat mikir untuk kasih kesempatan buat gue dan lo memulai semuanya dari awal. Sepuluh menit pengharapan buat gue." Ini juga sepuluh menit yang kutunggu setahun lamanya. Sebuah moment dimana perasaan ini bisa terbalaskan olehnya. Aku tak ingin menjadi munafik. Sekuat apapun aku mencoba melupakannya, tetap saja, aku tidak bisa. Aku memberikan tiket keretaku padanya. Aku memandanginya sekali lagi, meyakini kalau ini bukanlah mimpi. Tapi, aku memang benar tidak sedang bermimpi. Dihadapanku itu benarlah Ken. Si pemilik mata yang begitu meneduhkan ketika memandanginya, hidung mancung yang membuat wajahnya semakin memesona, dan cambang itu, cambang yang selalu kuingatkan untuk dicukur setiap minggu. Tak banyak yang berubah diwajahnya, masih saja membuatku tidak bisa menoleh kepada yang lain."Kalau lo mau, lo bisa sobek tiket itu."ujarku. Kini, aku tahu, sejauh apapun aku pergi. Sebanyak apapun hati wanita dia singgahi. Setiap hati tahu, kehati yang mana dia harus pulang. Ke rumahnya.

Rabu, 12 Maret 2014

Sebuah Nama

"Sebab aku tak memiliki alasan untuk menangis pada jatuh kali ini." Seperti ada aliran listrik yang menjalar disekujur tubuhku. Menggelitik hingga membuatku merasa geli dan senyum-senyum sendiri. Merambat hingga ke jantung dan membuat degupnya tak seperti biasanya, lebih cepat. Seringkali aku mencoba mencari apa sebabnya. Dan, semua jawaban hanya mengarah pada satu jawaban. Satu jawaban yang menuju pada satu nama. Si pemilik mata sayu yang begitu tajam menatap mataku. Si pemilik senyuman memesona hingga terkadang membuat kedua matanya menyipit. Si pemilik lesung pipi yang begitu dalam di kedua pipinya. Si pemilik suara berat yang terdengar sangat meneduhkan. Si pemilik pundak yang begitu nyaman untukku menyandarkan kepala. Si pemilik dada bidang yang begitu hangat ketika dipeluk. Si pemilik jemari kasar namun begitu kuat ketika menggenggam jemariku, seolah sedang berkata."Dia milikku." Satu nama, si pemilik hatiku. Kamu..

Senin, 03 Maret 2014

Dear, Allah..

Dari sekian banyak permintaanku padaMu. Kumohon, beri ia kesehatan. Sungguh, aku tak pernah bisa seakan-akan tak peduli atau menjadi biasa saja ketika ia sakit. Hariku tak mungkin seceria biasanya ketika ada rasa sakit yang ia rasakan. Senyumku pasti akan sulit merekah ketika ada hal yang membuat ia merasa lemas. Detak jantungku pasti akan selalu berdetak tak menentu sebelum memastikan ia baik-baik saja. Dari sekian banyak permintaanku padaMu. Kumohon, beri mama kesehatan.

Minggu, 23 Februari 2014

Teruntuk Hatiku..

Cinta ini harusnya diperjuangkan. Bukan disimpan dan tak boleh dibagi padanya. Aku terjebak, iya, terjebak pada pujian yang tak sengaja kulontarkan padamu. Aku terjebak pada satu sosok yang aku pun sendiri tak pernah melihatnya langsung. Bagaimana mungkin, sebentuk hati bisa terpaku pada hati yang tidak benar-benar dikenalnya. Tapi, ini terjadi. Setidaknya, pada hatiku. Sungguh, aku tak pernah menyangka bisa sejauh ini. Aku tak pernah menyangka semua ini akan menjadi serumit ini. Teruntuk hatiku, Maaf, aku begitu lancang mengenalkanmu pada hati yang tak pernah mengenalimu. Maaf, aku tak bisa memperjuangkanmu lebih dari ini. Maaf, aku hanya membahagiakanmu cukup seperti ini. Maaf, aku memaksamu untuk mencoba memagari hatimu. Maaf, aku harus bilang."Kumohon, tahu diri."

Sabtu, 22 Februari 2014

Pada Akhirnya..

Pada akhirnya, kita menyerah untuk sesuatu yang kita yakini benar. Pada akhirnya, kita menyerah pada sesuatu yang pernah kita yakini, dengan kita bersama, semuanya bisa teratasi. Pada akhirnya,sesuatu yang dulu kita lawan, menjadi pedang yang saling menyakiti. Aku tahu, dan kuyakin kamu pun tahu tentang bagaimana rasa sakit yang kita coba untuk mengingkarinya dengan senyuman. Kita, bersatu atasnama perbedaan yang jelas-jelas membentang. Perbedaan yang seakan merumitkan arah untuk kita bisa sejalan bergandengan. Dan, kita. Kita berpisah dengan alasan yang pernah kita deklarasikan dulu. Bahwa kita pantas bahagia. Bahwa kita pantas menjadi satu dan melebur dalam beda. Terasa indah, namun, perlahan melukai. Bukan cinta kita yang melukai, tapi orang-orang yang sinis pada cinta yang kita punya. Hingga akhirnya kita kembali berjanji untuk selalu saling menguatkan. Saling, kita bertemu dan berpisah pada kata yang sama, saling; mencintai dan tak ingin menyakiti. Pada akhirnya, tak ada lagi kita. Hanya ada aku dan kamu, mencoba tersenyum meski dihati rasanya pedih. Mencoba saling mendoakan diam-diam, meski dengan cara berbeda. Kita, aku menyimpannya pada ruang berwarna abu-abu.

Selasa, 18 Februari 2014

Cukup!

Aku pernah meminta. Bisa berada dalam satu waktu dan tempat yang sama dengannya.Menikmati setiap lekuk pahatan tangan Tuhan diwajahnya, mendengarkan suaranya, melihat bagaimana dia melengkungkan senyumnya dan bercerita. Hari itu, ketika hujan begitu deras mengguyur pantai sundak. Disebuah warung tepi pantai, seseorang duduk menikmati segelas teh hangat seraya asik berbincang dengan teman-temannya. Dia, seseorang yang Tuhan suguhkan dihadapanku. Seolah menjelma sepertimu, tampak samping. Cukup. Dia sudah lebih dari cukup untuk membuatku tersipu sore itu, cukup, meski pun lelaki itu bukan dia yang kuminta. Cukup. Setidaknya untuk senyum diwajahku. Sebab, tak semua ambisi harus bertemu "harus", adakalanya "cukup" lebih membahagikan. Cukup, begitupun untukmu. Aku tak berani meminta lebih. Cukup!