JellyPages.com

Selasa, 05 Agustus 2014

Sebatas Cukup.



            “Coba tebak, siapa orang yang aku temuin di kantor tadi?”
            “Siapa?”
            "Fito."
Nama itu, mungkin tak akan pernah menjadi spesial jika temanku, Kiran, tidak memperlihatkan foto lelaki yang sedang menarik perhatiannya saat itu. difoto yang diperlihatkannya, ada dua lelaki yang sedang berdiri memamerkan senyum, satu orang memakai kemeja lengan panjang kotak-kotak berwarna biru tua, lelaki itu yang sedang menyita perhatian Kiran, Lana namanya. Kelana, tapi teman-teman kampusnya lebih sering memanggilnya Lana. Dan, disebelahnya, lelaki yang juga sedang tersenyum. Lelaki bersweeter merah yang sedang mengalungkang DSLR itu, Kiran bilang namanya, Fito. Lelaki yang pernah tak sengaja kupuji tampan. Ia tak pernah kukenali, bahkan melihatnya langsung dengan kedua mataku. Tapi ia, perlahan tapi pasti dan tanpa aku sadari telah membawaku pada satu petualangan yang tak bisa kukendalikan. Aku jatuh cinta pada ia yang tak pernah kulihat langsung. Tak pernah kusangka, pujian itu membuatku berjalan jauh mencari tahu, Fito Septian.
            “Fito ternyata magang di Sun Tv juga,”jelasnya lagi.
Sejak Kiran tahu aku tertarik pada Fito, dia selalu meberitahukan apapun tentang Fito yang tidak aku ketahui. Tentang bagaimana Fito hari ini dikampus, apapun yang matanya tangkap tentang Fito, Kiran selalu menceritakannya padaku. Kiran, mata ketigaku, mata yang tak pernah kupaksa untuk bercerita dan mencari tahu tentang Fito, tanpa kupaksa pun dia sudah melakukan tugasnya sendiri.
            “Bener? Program apa dia?”tanyaku dengan begitu antusias. Tidak ada hal tentang Fito yang membuatku tidak antusias, walaupun itu hanyalah hal sederhana. Kiran sangat mengetahui tentang itu.
Disana, Kiran tertawa sebelum menjawa pertanyaanku tadi.”Kamu pasti kaget dia dapet program apa,”Kiran masih tertawa puas.”Music Box!”
Aku menelan ludah ketika mendengar Kiran mengucap Music Box. Sejak acara itu muncul aku tidak pernah menyukainya sama sekali. Music Box hanyalah acara tidak penting yang tayang pada jam prime time.”Serius?”
Kiran tertawa sangat puas ketika hanya pertayaan itu yang meluncur dari mulutku.”Fito bilang sendiri, tadinya dia dapat program kuliner, tapi karena masa tayangnya habis jadi dia dipindahin ke Music Box. Berdoa saja, dia inframe,”jelasnya dengan nada suara yang sedikit meledek.”Eh, Mbak Ibel manggil aku, sudah dulu, ya. Bye!”lanjutnya lalu mematikan telefonnya.
Iya, inframe, entah apa jadinya Fito yang pendiam itu harus rela menggerakan tubuh kakunya. Untuk menyunggingkan senyum disetiap fotonya saja ia terlihat kaku. Apalagi harus menggerakan seluruh tubuhnya. Membayangkannya saja aku sudah tertawa.
***
            Beberapa hari ini aku terpaksa menonton acara yang tak pernah kusukai itu. Alasannya, tidak lain hanya karena Fito. Sehari, dua hari tidak ada sosok Fito yang kulihat, sampai pada akhirnya seorang lelaki sedang berdiri diantara dua kameramen, ia memakai pakaian hitam-hitam sama seperti crew lainnya, kedua tangannya memegangi papan mungkin ukurannya sekitar satu meter, dipapan itu, tertempel lirik lagu, ia hanya terlihat tampak samping, tapi aku yakin itu Fito. Keyakinan itu entah darimana datangnya. Tapi aku tahu itu Fito, dilengannya melingkar gelang yang selalu dia pakai, gelang berwarna hitam yang mirip seperti tasbih yang ia lingkai dipergelangan tangannya. Juga sepatu yang selalu ia pakai converse, dan yang paling membuatku yakin adalah, cambangnya.
            Detik yang begitu cepat itu teramat membuatku bahagia. Ini kali pertamaku melihatnya tak hanya dalam bentuk foto. Meski tampak samping, bahagia tetap saja bahagia. Aku mencoba memberitahu Kiran tentang apa yang baru saja aku lihat dengan mataku. Tapi, sedari tadi pesanku belum dia baca. Mungkin dia sedang sibuk, magang di stasiun televisi memang tidak seenak yang dibayangkan. Ada hal yang harus terbayarkan untuk sebuah hasil yang masih terlihat abu-abu. Dunia pertelevisian memang terlihat menyenangkan, bertaruh pada kreativitas dan selera penonton targetnya tentu saja ratting yang tinggi. Dan semua itu butuh pengorbanan salah satunya, waktu. Tak hanya Kiran, Fito pun begitu, dalam beberapa postingan terbarunya di Instagram, terlihat ada kantung mata yang tergambar di wajahnya. Bagaimana tidak, Fito tergabung dalam acara yang tayang live setiap harinya. Kiran pernah cerita, setiap harinya Fito datang pukul sebelas pagi dan pulang pukul dua dini hari bahkan bisa lebih.
From: Kiran
Aku masih belum dibolehin pulang, nih. Tadi mbak Ibel ijinin aku pulang. Tapi mbak Ina malah nyuruh aku buat rundown. Lembur!
***
            Kiran adalah sosok yang pelupa, dan tugasku harus mengingatkannya. Ketika ada hal yang ingin ia ceritakan namun situasinya tidak memungkinkan, Kiran selalu memintaku untuk mengingatkannya. Seperti hal nya tadi, ia mengirimiku pesan, katanya ia ada yang ingin ia ceritakan tentang Fito padaku, tapi nanti ketika jam makan siang.
            So, ada apa dengan Fito hari ini?”tanyaku dijam makan siangnya.
Terdengar Kiran sedang menguyah makanan dimulutnya.“Jadi gini, tadi aku satu lift sama dia,”ceritanya terhenti, ia menelan makanan dimulutnya.
            “Habisin dulu deh makannya.”
Tak lama setelah ia menghabiskan makan siangnya, ia kembali menghubungiku.”Tadi aku satu lift sama dia. Muka dia kelihatan capek banget, katanya kurang tidur. Sudah beberapa hari ini dia pulang subuh. Kamu kalau lihat dia pasti nggak tega,”jelasnya.
            “Kasihan! Tapi dia masih ganteng, kan?”tanyaku lalu tertawa.
            “Nggak sih biasa aja. Hey, aku kenalin kamu ke dia ya. Dia jomblo, kok. Kamu juga, siapa tahu cocok, siapa tahu bisa jadian. Masa kamu mau mendam perasaan terus. Sampai kapan? Sampai dia punya cewek terus kamu nyesel. Dia orang baik, kok. Kamu nggak salah menilai dia selama ini. Aku kenalin, ya.”
Cukup lama aku menjawab ajakan Kiran untuk mengenalkanku dengan Fito.”Aku belum siap.”
            Aku belum siap. Hanya itu jawaban yang bisa aku katakan. Sebenarnya bukan itu alasannya. Aku adalah orang yang percaya dengan kekuatan harapan pun dengan mimpi. Tapi, entah apa yang membuatku tak berani melakukan kedua hal itu untuk seorang lelaki bernama Fito. Aku takut menyimpan harap yang berlebihan untuknya, apalagi bermimpi untuk memilikinya. Rasanya, cukuplah semuanya berjalan seperti ini.
            Biarlah aku mencintainya dengan caraku sendiri, yang membiarkan dia hidup dalam ruang-ruang yang tidak pernah orang lain ketahui. Hanya Tuhan, aku dan Kiran yang boleh tahu tentang ini. Aku tak mengharuskan dia tahu, bahkan mengharuskan ia untuk  membalasnya. Untuk saat ini, cukuplah perasaan ini bahagia dengan caraku yang teramat sederhana. Dengan hanya melihatnya sepersekian detik di acara itu, mengetahuinya dari cerita-cerita Kiran dan jejaring sosial miliknya. Selebihnya, biarkan Tuhan yang menentukan ending yang bagaimana untuk ceritaku tentang Fito.
            Fito, ia mengenalkanku pada satu perasaan yang sebenernya menyakitkan, tapi begitu kunikmati. Perasaan jatuh cinta, diam-diam.
***
            Melihatnya menggerakkan tubuhnya bukan menjadi hal yang menggelikan lagi. Fito tidak terlihat sekaku pertama kali ia inframe. Mungkin ia sudah terbiasa, begitupun dengan ekspresinya. Kini aku tahu, bagaimana ia menyunggingkan senyumnya. Beberapa foto yang ia posting pun kini memperlihatkan lengkungan senyumnya, amat memesona.
Entah apa yang membuatku ingin sekali membuka linimasa milik Fito. Benar saja, ada tweet terbaru yang baru ia posting beberapa jam yang lalu. Last Day begitu ia menuliskannya. Tanpa perlu aku bertanya pada Kiran. Aku tahu, hari ini adalah hari terakhirnya magang di Sun Tv. Aku menghela napas, tiga bulan begitu cepat berlalu. Hari terakhir ia magang, itu artinya ini adalah kali terakhir aku bisa melihatnya di acara itu.
To: Kiran
Hari ini, hari terakhir Fito magang.
Mataku memanas ketika melihat Fito berdiri memegang beberapa gulung kertas karton diacara itu. Aku tak bisa menahan bulir airmata yang tergenang disetiap sudut mataku. Setelah ini, aku tak tahu dengan cara apalagi aku bisa melihat setiap gerak-geriknya.
"Aku tadi ketemu Fito. Iya, dia bilang ini hari tearkhirnya magang,"jelas Kiran melalui telefon.
Aku menghela napas."Sedih."
 Kiran justru tertawa mendengar jawabanku."Mumpung Fito belum pulang ke Bandung. Mau aku kenalin, nggak?"
Sulit sekali mulut ini berkata mau."Kalau jodoh, aku bisa apa?" kali ini aku yang tertawa sebelum akhirnya Kiran mengakhiri obrolan.
Kalau jodoh, aku bisa apa? kata-kata itu tak tahu darimana asalnya, meluncur begitu saja. Aku percaya ketika Tuhan menakdirkan mata ini bisa melihatnya tanpa sekat. Maka, tak ada satupun yang mampu menghalangi. Atau mungkin jika Tuhan menakdirkan ia untukku, tak ada yang yang tak mungkin untukNya sang sutradara maha dahsyat. Mungkin, aku tak ingin memaksaNya untuk menjadikannya sebagai imamku. Biarlah semuanya menjadi rahasiaNya akan menjadikan aku dan dia menjadi seperti apa. Bahkan jika tetap seperti ini.
Akan ada saatnya aku bisa menatapmu, tanpa sekat. Tulisku dalam linimasaku.
***
            Hari-hari selanjutnya tidak ada kabar dari Kiran tentang Fito. Meski dalam satu perusahaan yang sama. Fito lebih dulu magang disana dibanding Kiran. Masih ada dua minggu lagi untuk Kiran magang di Sun Tv. Itu artinya, tidak ada cerita yang bisa Kiran share denganku. Dan dalam kurun waktu itu tak ada kabar yang aku dengar tentang Fito. Ditambah, tak ada   postingan berarti di linimasanya. Aku kehilangan kabar Fito.
            Saat itu, entah apa yang membuatku berpikir untuk melupakan Fito. Bukan melupakan sosoknya, tapi melupakan perasaanku untuk Fito. Sehari dua hari semuanya berjalan tidak mudah. Sulit sekali mengendalikan keingintahuanku tentang Fito. Sekuat tenaga aku tak memulai bahasan tentang Fito dengan Kiran. Begitupun dengan keinginanku untuk membuka apapun jejaring sosial milik Fito. Aku ingin terbebas dan membebaskan hatiku.
From: Kiran
Hei postingan di blog itu untuk Fito?
Aku tersenyum membaca pesan dari Kiran. Aku tidak perlu bercerita banyak, Kiran sudah tahu terlebih dulu.
To: Kiran
Itu cuma sugesti kamu aja.
Tak lama, Kiran hanya membalas pesanku dengan emoticon tertawa. Bukan jawaban ku yang membuatnya tertawa, tapi kata sugesti yang membuatnya tertawa. Sugesti, kata yang sering diucapkan Fito
Tak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan. Ketika aku berusaha untuk melupakan perasaanku tentang Fito. Ketika itu juga tugas kegiatan kampus sedang sibuk-sibuknya. Tak ada kesempatan untuk memikirkan Fito bahkan untuk membuka linimasanya. Dan Fito, nyatanya bisa sedikit terlupakan. Sedikit saja, Fito masih tetap ada dalam satu ruang rahasia dihatiku yang tanpa penjagaanpun, ia tak mungkin pergi.
"Jadi mau move on ceritanya?"
Aku tertawa mendengar pertanyaan Kiran."Mungkin, aku takut nyasar dan nggak bisa balik lagi."
Kiran hanya mengangguk-angguk. Setelah sekian lama bergulat dengan kesibukan magang, Kira
n dapat ijin untuk beberapa hari libur. Dan kemarin dia baru saja tiba, kangen Cirebon katanya."Padahal aku punya banyak cerita tentang Fito."
"Apa?"
Kiran
tertawa puas."Katanya mau move on. Tapi masih penasaran!"
"Tapi, bukan berarti nggak boleh tahu tentang dia, kan?"
Kiran mengubah posisi duduknya sambil mengaduk-aduk pesanan ramennya."Fito lagi deket sama anak magang juga. Dia sering kok inframe bareng, beberapa kali aku lihat mereka bareng. Aku nggak tahu namanya siapa. Tapi dia cantik, anak gaul Jakarta kelihatannya, hitam manis,"Kiran bercerita panjang lebar."Cemburu?"lanjutnya bertanya.
Cemburu? Mungkin iya. Tapi, rasanya ini tidak boleh dibiarkan. Tak boleh ada perasaan cemburu hanya karena hal ini."Nggak! Nggak boleh cemburu,"jawabku sambil tertawa.
Tertawa palsu. Ada sesak yang tiba-tiba menyergap dadaku. Rasanya sulit sekali bernapas seperti biasanya. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Sesak itu belum juga pergi. Fito, ia alasan dari sesak ini.
"Nggak ada yang ngelarang kok buat cemburu."
Aku sedikit menyunggingkan senyum."Ada, logika, logika yang melarang."
Logika. Ia tak pernah berjalan beriringan dengan hati. Ia selalu berlawanan seperti hitam dan putih, baik dan buruk atau kanan dan kiri. Logika, ia selalu memintaku untuk menyerah dan berhenti bermimpi dan  tak lupa ia menyuruhku, untuk tahu diri.
***
            Berbulan-bulan aku mencoba menyibukkan diri, dan berusaha melupakannya juga. Tapi seperti yang selalu kukatakan. Sekuat apapun logika menyuruhku untuk menyerah, tapi hati selalu punya kekuatan untuk terus menyimpan asa, dan logika pun kalah. hati terus menyuruhku untuk tak memadamkan harapan. Seredup apapun sebuah harapan, ia tetaplah harapan. Aku ingin menggapai harapan itu, sebelum akhirnya ia redup bahkan menjadi harapan manusia lain.
            “Kapan kamu di Bandung?”tanyaku memulai obrolan via telefon dengan Kiran.
Kiran berdeham.”Mungkin dua minggu lagi, selesai kontrak magang aku selesai aku mau balik ke Cirebon dulu dua atau tiga hari baru balik ke Bandung lagi,”jawabnya sambil menguyang makan siang siangnya.”Kenapa?”lanjutnya bertanya.
            “Nggak.”
            “Aku tahu! Pasti kamu mau tahu berita Fito lagi, kan? Aku belum bilang ya, kemarin dia kesini, ngurusin nilai magangnya.”
            “Oh.”
            “Cuma oh?”
Kiran, ia terlalu tahu, tak mungkin bahasan tentang Fito aku jawab cuma dengan kata “oh” saja. Tapi Kiran memang benar, aku tak bisa pura-pura untuk tidak peduli apapun tentang Fito. Bahkan untuk hal yang sederhana, bagaimana penampilan Fito hari ini, misalnya.
            “Tanggal lima belas nanti aku ada acara kampus di Bandung.”
            “Beneran? Main dulu dong di Bandung selesai acara kampus. Kamu mau apa nanti aku sediain di kost-an aku. Pokoknya kalau kamu nginep di kost-an aku, aku traktir semuanya.  Kamu mau apa sebutin aja,”Kiran begitu antusias.
Aku tersenyum.”Aku mau ketemu Fito,”aku segera mengakhiri obrolan kami.
Ya. Aku hanya ingin bertemu Fito. Bertemu saja, aku tak memaksa Kiran untuk mengenalkan aku pada Fito. Aku hanya ingin berada pada satu waktu dan tempat yang sama dengannya, sekali saja. Tak apa tanpa ada jabat tangan, aku tak menginginkan lebih. Aku ingin bisa melihatnya langsung tanpa sekat seperti yang kulakukan beberapa bulan yang lalu ketika ia magang di Sun Tv. Aku hanya ingin tahu dengan mataku sendiri, bagaimana ia melengkungkan senyumnya, menatap lawan bicaranya, melangkahkan kaki dan mendengarkan suara, itu saja. Rasanya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hatiku puas dan terbebas.
***
Perjalanan hari ini tak hanya sebuah perjalanan biasa untukku. Perjalanan hati, begitu perjalanan ini kunamai. Sebelumnya, aku berkata padaNya,”Kalau tidak Engkau izinkan mata ini melihatnya. Jangan pertemukan mata ini dengan sosoknya.” Sabtu sore itu, hujan turun cukup deras, pertandakah? Dadaku berdetak tak karuan, bukan karena dia. Lebih karena aku tak sabar menunggu jawaban dariNya. Perjalanan ini bukan sekadar main-main semata. Ini juga tentang sebuah penantian yang seharusnya berujung, menemui ujungnya, menemui endingnya. Tapi, tak semua ending harus bahagia. Semua itu kembali pada keputusanNya. Sang sutradara kehidupan, pemilik skenario maha dahsyat.
“Banyak banget sih bawaannya?”tanya Kiran yang terpaksa membawa laporan kegiatan kampusku.
“Iya, yang punyanya nggak ikut, jadi aja aku bawa pulang lagi.”
Rintik hujan sore itu semakin deras. Kami mempercepat langkah kaki untuk sampai di kost-an Kiran yang tak jauh dari shelter depan kampusnya.
            “Siap ketemu Fito?”ditengah-tengah rintik hujan Kiran tiba-tiba bertanya seperti itu.
Aku hanya tersenyum dan sesekali memperbaiki posisi backpack ku. Aku berusaha menyembunyikan perasaanku, kali ini biarkan aku yang tahu. Aku sudah tak sabar untuk bisa melihat Fito secara langsung. Dan aku tak sabar untuk mengetahui apakah perasaan ini tetap sama jika bertemu dengannya.
            Setibanya di kost-an Kiran aku segera bergegas mandi. Udara kota Bandung selalu bisa membuat niat mandiku selalu urung. Dan sebelum semua itu terjadi, aku harus dan bersiap untuk menjelajahi Bandung malam ini. Mengunjungi tempat-tempat yang biasa Fito kunjungi bersama teman-temannya. Tempat yang selalu Fito share di Path nya.
Malam ini, di sebuah kedai sederhana aku berusaha menahan hawa dingin kota Bandung. Rasanya ingin sekali memeluk segelas teh hangat yang tak kutemui dalam list menu minuman.  Ditempat ini, tempat yang sering Fito kunjungi. Aku menaruh harap pada tempat ini. Aku berharap tempat ini akan menjadi saksi ketika mata ini menangkap sosokmu tanpa sekat. Aku duduk seraya terus memperhatikan orang-orang masuk dan keluar. Berharap salah satu dari mereka yang masuk adalah Fito.
“Dia kesini tadi jam delapan,”kata Kiran yang duduk disampingku sambil terus memandangi layar ponselnya.
Aku melihat melirik jam ditangan kiriku, pukul sembilan lebih beberapa menit. Andai aku datang lebih cepat satu jam. Sayangnya, berandai-andai tak akan merubah apapun tentang itu. Aku terlambat.
            “Sedih?”
Aku tersenyum pada Kiran.”Sedih kenapa?”
            “Nggak ketemu Fito,”jawabnya sambil memandangiku.”Dia mungkin nggak lagi kesini sekarang. Selesai makan kita ke..”
Aku memotong pembicaraan Kiran.”Nggak usah, segimana pun kamu berusaha buat aku bisa ketemu Fito. Kalau Tuhan belum izinin, semuanya sia-sia. Kita ikutin saja apa kata Tuhan, aku kesini juga kan bukan cuma karena Fito. Kamu sering minta aku main ke kost-an kamu. Berhubung aku ada acara di Bandung jadi kan sekalian. Omongan aku yang minta kamu temuin aku sama Fito, lupain aja. Aku cuma bercanda.”
            “Tapi, aku sering bilang ke kamu kalau kamu main ke Bandung aku kenalin sama Fito.”
Aku mengamini dalam hati ucapan Kiran.”Amin.”
Kiran meraih handphonenya.”Aku telefon Fito ya suruh kesini.”
Aku menggelengkan kepala.”Kalau sudah waktunya ketemu juga pasti ketemu.”
            Bandung setelah hujan begitu terasa dingin. Tidak tidur kemarin membuat rasa kantukku malam ini begitu cepat menghampiri. Sesampainya di kost-an Kiran aku segera tidur begitupun dengan Kiran. Tak ada hal yang ingin aku sesali mala mini. Aku ingin semuanya berjalan sewajarnya, seperti air yang selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, itu saja.
***
Keesokan harinya, aku tak menaruh harap pada kota itu. Kataku padaNya,”Tuhan, terserah engkau sajalah,”lagi-lagi kata itu yang keluar. Terserah, akan menuliskan ending yang bagaimana untuk kisah ini. Aku tak ingin memaksa Tuhan untuk menentukan endingnya seperti yang aku inginkan. Biar saja, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap umatnya, begitupun untukku.
“Kita kemana hari ini?”tanyaku pada Kiran yang masih bermalas-malasan di kasurnya,
            “Ketempat yang ada Fito nya.”
Aku tertawa mendengar jawaban Kiran.”Masih berjuang buat nemuin aku sama Fito, nih?”
Kiran mengambil handphonenya, entah apa yang sedang dilihatnya. Wajahnya terlihat serius.
Aku merebut handphone dari tangannya.”Sudahlah, kalaupun nggak ketemu Fito sekarang. Lain kali kan bisa. Itu artinya aku harus main kesini lagi. Sudah deh, nggak usah terlalu dianggap serius. Muka kamu nggak pantas buat mikir semius tahu, ledekku.”
Sebuah bantal tiba-tiba mendarat diwajahku.”Sial! sana mandi kita ke mall deket-deket sini aja, ya.”
            “Oke lah, mall lagi. Jauh-jauh ke Bandung ujung-ujungnya ke mall. Itu mah di Cirebon juga ada.”
            Aku berusaha melegakan hatiku. Menghindari rasa kecewa yang hanya akan mebuatku terluka. Aku tak ingin ada bulir air mata yang harus ku seka nantinya. Aku ingin tersenyum dan memasrahkan segalanya. Berserah untuk setiap keputusan yang nantinya akan diberikan olehNya. Mungkin lebih baik seperti itu, tak pernah ada sosok yang yang kutangkangkap langsung oleh mataku. Dan membuatku untuk nantinya lebih mudah untuk melupakan perasaan ini, perasaan untuk Fito.
***
Hingga hari beranjak menjadi sore, tak ada lagi harapan yang ingin kuperjuangkan. Tak ada lagi keingin menggebu untuk mata ini bisa melihat sosok Fito secara langsung. Semuanya telah padam, padam dengan sendirinya.
“Pulang besok aja deh,”Kiran berusaha membujukku untuk mengurungkan niatku pulang hari ini.
“Telat bujuknya, travel nya udah mau jemput.”
“Gagalin aja, besok aku yang bayar travelnya.”
Aku tertawa melihat Kiran memaksaku bahkan sampai ingin membayarkan travel.”Sudah deh, nggak usah gaya mau bayarin travel. Emang aku nggak tahu sisa berapa saldo kamu di ATM,”ledekku sambil meliriknya.
Aku berdiri sembari memperhatikan mobil-mobil melintasi shelter tempat aku menunggu travel. Kiran pun begitu, sampai pada akhirnya terdengar suara yang memanggil namanya. Kiran mencari-cari siapa yang memanggilnya. Tak lama sebuah motor menghampiri.
“Lo mau balik ke Cirebon. Padahal gue mau kasih undangan ini. Biasa akustikan,”katanya sambil memperlihatkan wajah cerianya.
Kiran terdiam beberapa detik.”Nggak, ini temen gue yang mau balik ke Cirebon,”jawabnya.”Kenalin ini temen gue,”lanjutnya.
Lelaki itu mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya.”Fito.”
Senyum itu, senyum yang pernah kulihat diacara itu.”Vita.”
Rasanya ingin sekali aku melihat wajahku sekarang. Aku tak ingin Fito melihat ada semu kemerahan dipipiku. Dan degup ini, semoga Fito tak mendengarnya. Jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya.
            “Kenapa pulang buru-buru nanti aja, datang ke akustikan dulu bareng Kiran.”
Ini lebih dari apa yang aku bayangkan.”Travelnya sudah datang,”aku menunjuk sebuah mobil yang berjalan menghampiri kami.
Aku beranjak masuk kedalam travel. Dari dalam mobil aku melihat ada hal tawa yang sedang ditahan oleh Kiran. Aku tahu, ia lah orang kedua yang berbahagia karena kehadiran Fito. Dan lelaki itu, terus memamerkan senyum termanisnya. Aku mencari-cari handphone ku di dalam tas.
To: Kiran
Thank you. Speechless.
Aku tak ingin meminta lebih. Cukup, setidaknya untuk senyum diwajahku sore ini. Sebab, tak semua ambisi harus bertemu "harus", adakalanya "cukup" lebih membahagikan. Cukup, begitupun untukmu. Kini aku tahu, caranya menyunggingkan senyumnya, menatap lawan bicaranya, dan mendengar suaranya. Selebihnya, terserah Engkau sajalah.”Sampai bertemu pada waktu yang ditentukanNya, Fit.”
***