JellyPages.com

Rabu, 02 Juli 2014

Teruntuk Kamu yang Tak Pernah Bisa Kumiliki

sebab jodoh adalah tentang siapa yang pantas dengan siapa, menurutNya. bukan menurut manusia. tapi, kamu, kamu dan semua yang kamu punya. seolah membuatku merasa tak pantas untukmu, berdampingan dengamu dan mendampingimu. ini bukan salahmu. tapi, aku yang terlalu tahu siapa aku. aku yang terlalu tahu diri. selamat menemukan jodoh kamu yang tak pernah bisa kumiliki.

Jumat, 20 Juni 2014

Takut

Takut?
Aku sedang mengalaminya. Takut kali ini adalah takut karena tidak bisa mngendalikan perasaanku untuknya. Takut yang seharusnya tidak pernah ada. Tapi mengaguminya, membuat takut ini menjelma. Entah apa dan kenapa? Seolah ada tembok raksasa yang ketika mengetahuiku menyukainya, dia tertawa. Seakan sedang menertawakanku. Seakan sedang berkata padaku.”Tahu diri!”
Apalagi untuk memperjuangkannya. Untuk berkata jujur aku menyukainya pun aku takut. Ada spasi antara aku dan dia. Ketika aku mencoba mendekatinya, dia justru seakan berpindah satu langkah didepanku.
Aku takut, takut jatuh cinta padanya.

Sabtu, 14 Juni 2014

Kisah Sebentar



Kenyataannya, tak pernah ada yang tahu dimana hati akan melabuhkan pilihannya.
Sekuat apapun aku mencoba untuk berusaha membuatmu sebagai pelabuhan terakhirku.
Semuanya terasa percuma ketika tak ada tanganNya dalam usahaku.
Sebab berjuang dan memperjuangkan adalah tugas dua orang, bukan satu orang, bukan aku saja.
Sakit memang, tapi tunggu! Tuhan mempersiapkan jawaban yang akhirnya aku kupahami.
Jawaban yang kadang membuatku malu pernah memperjuangkanmu.
Jawaban yang membuatku ingin melupakan bulir airmata yang pernah kuseka dipipiku.
Jawaban yang pada akhirnya membuatku ingin sekali berterimakasih kepadaNya.
Kamu..
Tak sekalipun aku menyesali bulan-bulan yang pernah terisi denganmu.
Tak sekalipun aku menyesali telah memercayaimu untuk sebentar kutitipkan hatiku.
Kamu, cobalah menjaga hatimu untuk satu hati saja.
Jika kamu bertanya kenapa aku mundur? Itu alasanku.


Senin, 19 Mei 2014

Menjemput Hati [?]

“Akan ada saatnya, aku bisa melihatmu. Tanpa sekat,”tulisku pada linimasaku ketika melihatmu inframe di acara itu.
“Kalau dia orangnya, izinkan aku bertemu dan melihatnya dengan mataku sendiri,”begitu kataku padaNya beberapa bulan lalu.
Dan perjalanan hari itu tak hanya sebuah perjalanan biasa untukku. Perjalanan hati, begitu perjalanan itu kunamai. Sebelumnya, aku berkata padaNya,”Kalau bukan dia, jangan pertemukan mata ini dengan sosoknya.”
Sabtu sore itu, hujan turun cukup deras, pertandakah? Dadaku berdetak tak karuan, bukan karena dia. Lebih karena aku tak sabar menunggu jawaban dariNya.
Perjalanan ini bukan sekadar main-main semata. Ini juga tentang sebuah penantian yang seharusnya berujung, menemui ujungnya, menemui endingnya.
Tapi, tak semua ending harus bahagia, kan?
Dan semua itu kembali pada keputusanNya. Sang sutradara kehidupan, pemilik skenario maha dahsyat.
Malam itu, di sebuah kedai seafood aku berusaha menahan rasa dingin yang menyelimuti kulitku. Rasanya ingin sekali memeluk segelas teh hangat yang tak kutemui dalam list menu minuman disana.
Ditempat itu, tempat yang sering kamu kunjungi. Aku menaruh harap pada tempat itu. Aku berharap tempat itu akan menjadi saksi ketika mata ini menangkap sosokmu tanpa sekat. Aku duduk seraya terus memperhatikan orang-orang masuk dan keluar. Berharap salah satu dari mereka yang masuk adalah kamu.
“Dia kesini tadi jam delapan,”kata teman disampingku sambil terus memandangi layar ponselnya. Aku melihat melirik jam ditangan kiriku, pukul sembilan lebih beberapa menit. Andai aku datang lebih cepat satu jam. Sayangnya, berandai-andai tak akan merubah apapun tentang itu.
Perasaan ini, terasa biasa aja. Iya, biasa saja. Aneh rasanya dengan perasaan semacam ini. Perasaan ini harusnya bersedih, perasaan ini harusnya hancur. Tapi, perasaan ini terasa biasa saja.
Keesokan harinya, aku tak menaruh harap pada kota itu. Kataku padaNya,”Tuhan, terserah engkau sajalah,”lagi-lagi kata itu yang keluar. Hingga hari beranjak menjadi sore, tak ada lagi harapan yang ingin kuperjuangkan. Aku berdiri sembari memperhatikan mobil-mobil melintasi shelter tempat aku menunggu travel dengan dua temanku. Dan  kamu, tak juga kutangkap dengan mataku. Aku tersenyum sambil melambaikan tangan kepada dua temanku.
Travel melaju, aku menatap lurus pada jalanan. Sudah, jawabannya sudah, sampai disini saja.
(Perjalanan ini, tentang perjalanan yang awalnya ingin kunamai perjalanan menjemput hati. Tapi, Tuhan justru lebih ingin menamai perjalanan ini sebagai perjalanan membebaskan hati. Sampai bertemu pada waktu yang ditentukanNya, Pit.)

Kamis, 08 Mei 2014

Anak Pantai

            Ini jawabannya, hasil dari segala pertanyaan yang beberapa bulan ini membayanginya. Pertanyaan tentang kenyamanan hidup yang jauh ia perjuangkan hingga ibukota. Nyatanya, tak pernah ada yang membuatnya lebih nyaman daripada berada ditanah ini. Tempat dimana ia dilahirkan, tempat dimana ia tumbuh dan besar dan tempat dimana ia pernah merasakan kebosanan akan hidup yang hanya begitu-begitu saja.
            Hari ini, matahari Bali seperti sedang menyambut kulitnya yang tak sehitam tiga tahun lalu, sangat menyengat. Tiga tahun, ia berusaha meninggalkan semua identitasnya dan membuka hidup lembaran hidup barunya di Jakarta. Hidup yang pernah ia yakini membawa perubahan besar padanya. Hidup yang akhirnya membuat ia menyerah dan kembali kesini, Bali.
            Pukul 14.25 WITA. Ia terus saja memainkan layar ponselnya. Mencari sebuah nama di kontaknya yang sudah sangat lama tak ia hubungi. Seseorang yang pernah ia tinggalkan untuk mimpinya ini. Seseorang yang pernah memeluknya sangat erat ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Bali. Luh, begitu gadis itu selalu ia panggil.
            “Hallo,”sapa seorang perempuan.
Cukup lama ia tak menjawab sapaan itu, sebelum akhirnya dia memutuskan telefon tanpa menjawaab sapaan gadis itu.
Ia memperhatikan foto dari gallery handphonenya. Seorang gadis bermata bulat, berkulit sawo matang dan berambut panjang yang bergelombang berwarna hitam. Gadis itu sedang tersenyum tersipu di foto itu. Ia masih ingat, foto itu dimbil ketika ia baru saja memberi handphone baru dan menjadikan gadis itu sebagai objek foto pertamanya dengan handphone barunya itu. Di foto itu, gadis itu tersipu malu, sangat manis. Tak lama, handphonenya berdering, Luh.
“Luh, ini aku.. Dhru.”
Tak ada jawaban dari Luh. Hanya terdengar sayup-sayup ombak dan tawa seorang anak kecil, hingga akhirnya. Telefon itu dimatikan oleh Luh.
            Dhru tahu, Luh pasti masih marah dengannya. sebelum akhirnya ia pergi, ia berjanji akan selalu menghubungi Luh. Namun, ia mengingkari sendiri janjinya, beberapa kali ia memang masih menghubungi Luh. Tapi, suara Luh selalu ingin membuatnya kembali ke Bali. Ia pun mengganti nomor handphonenya dan tak lagi menghubungi Luh.
            Berkali-kali ia mencoba menghubungi gadis itu lagi. Berkali-kali juga telefonnya di reject oleh Luh.
Dhru akhirnya menyerah, ia hanya mengirim pesan singkat untuk Luh. Kumohon, terima telefonku.
Waktu terus berjalan, pesannya pun tak dibalas oleh Luh. Kali ini, ia semakin yakin Luh sudah teramat membecinya. Ia putuskan untuk sekali lagi mengirimkan pesan kepada Luh.
Kumohon, Luh. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Temui aku di nusa dua.
Terkirim!
            Masih jam setengah tujuh malam, Dhru datang tiga puluh menit lebih cepat. Ia sudah tak sabar lagi melihat rupa gadis yang selalu saja membuatnya merindukan Bali, selain kedua orangtuanya tentunya. Ia terus memperhatikan arloji yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam tujuh lebih lima belas menit, Luh belum juga tiba, mungkin dia masih berada di perjalanan, pikirnya. Menit demi menit ia tunggu demi seorang Luh. ia sengaja tidak memesan makan sebelum Luh datang. Hanya air mineral yang masih utuh yang sedari tadi menemaninya menunggu Luh. Dhru semakin pesimis menunggu kedatangan Luh. Apa Luh akan datang? Pesannya saja tidak dia jawab. Apa Luh akan datang ketika ia tahu gadis manis itu menyimpan kemarahan kepadanya. Ia melirik arlojinya lagi, sudah jam delapan malam.
Dhru menghela napas. Tatapannya mengarah pada deru pantai yang sangat indah. Ia sengaja memesan tempat yang dekat dengan pantai. Baginya, pantai selalu menjadi arena permainan sangat mengasikkan.Tapi, tidak dengan malam ini. Bertemu pantai membuatnya semakin malu pada dirinya sendiri. malu pada ucapannya yang pernah diutarakan pada Luh di pinggir pantai pada suatu sore tiga tahun silam.
            Dhru beranjak dari kursinya. Ia tahu, Luh tak akan datang, ia memutuskan untuk pulang dan menemui Bapak dan Ibunya dirumah. Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya. Seorang perempuan menyapanya dengan sebuah senyuman. Senyuman malu-malu yang sangat ia kenali. Senyuman yang selalu menyuruhnya untuk kembali ke Bali dan menyerah pada mimpi-mimpinya.
            “Luh?”
            “Baru jam setengah sembilan, kamu sudah ingin pulang? Kamu baru menunggu aku dua jam setengah, kamu sudah menyerah?”tanyanya dengan logat Bali yang begitu kental.”Aku nunggu kamu tiga tahun ..”lanjutnya.
            “Dan kamu menyerah?”potong Dhru.
Tak ada jawaban dari Luh, ia hanya tersenyum saja, senyuman paling manis yang pernah Dhru lihat.

            Mereka berdua duduk berhadapan, menikmati suasana pinggir pantai dengan pencahayaan yang redup, romantis sekali. Tak lama, seorang pelayan wanita menghampiri mereka membawakan pesanan, Green Curry with eggplant, pepper and sweet basil.
            “Jakarta memang sudah merubah kamu,”sindir Luh.
Dhru tahu maksud ucapan Luh, dia mencoba menerima semua sindiran yang nantinya akan Luh katakan untuknya.”Luh, kumohon, maafkan aku.”
Ekspresi Luh terlihat berbeda, ada amarah yang sengaja ia tahan.”Kamu salah apa?”
Dhru mencoba mentap mata Luh.”Sudahlah Luh, aku tahu tentang semua kemarahanmu.”
            Luh hanya bisa menundukkan kepalanya. Dhru tak berani bertanya banyak pada Luh. Jika Luh menundukkan kepalanya, Dhru tahu, ada sesuatu yang sedang gadis itu sembunyikan padanya. Sesuatu yang ia tak boleh ketahui. Cukup lama Luh menundukkan kepalanya. Sampai ketika ada bulir air mata yang menetes yang coba Luh seka dengan jemarinya.
            “Luh, kamu menangis?”
Gadis itu meneggakkan kembali kepalanya. Benar saja, ia menangis.”Kamu jahat. Kamu pergi ninggalin aku. Kamu bohong nggak kasih kabar ke aku. Dhru kamu jahat,”kini tangis Luh benar-benar pecah. Dhru belum pernah melihat Luh semarah ini. Luh yang ia kenal adalah seorang gadis Bali yang kuat dan tak pernah kalah dengan semua permasalahan yang hinggap dihidupnya.
            “Marahi aku, Luh.”
Luh mengusap air mata di pipinya.”Untuk apa kamu pulang ke Bali?”
Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulut Luh. Pertanyaan yang mungkin akan membuat Luh mentertawakannya ketika mendengar jawabannya.”Anak pantai, yang bosan dengan pantai. Anak pantai yang mencoba melawan ombak dan mengarungi hidup pada lautan yang membawanya hidup kesana-kemari..”Dhru mencoba berpuitis.”Jakarta, kota dimana si anak pantai bermimpi besar. Mimpi yang membawanya pada sebuah taraf dimana aku lupa siapa aku. Hidupku benar-benar berubah disana, semua yang kupunya disini tak da artinya di Jakarta. Aku memulai semuanya dari nol, tahun kedua disana, aku sudah bisa memetik hasil dari kerja kerasku, sekaligus meniti mimpiku. Semuanya indah, sama seperti yang aku harapkan. Semua bisa kubeli dengan uangku. Memasuki tahun ketiga, satu moment titik balik membuatku berpikir tentang hidupku. Saat itu, temanku satu kantorku meninggal karena mengejar target perusahaan. Berdua kami selalu lembur setiap harinya. Bahkan pernah aku tak tidur selama empat hari berturut-turut. Target terpenuhi, perusahaan bangga pada kerja kami berdua. Tapi, pada suatu malam ketika kami ingin merayakan kesuksesan kami. Aku menemukan dia meninggal di kamar kost nya karena overdosis. Alasannya, hanya satu, dia kerja keras seperti itu demi kekasihnya. Wanita yang awalnya menjadi alasan untuk setiap kerja keras yang dia lakukan. Dia ingin menikahi wanita itu. Tapi, dia justru menikah dengan orang lain. Saat upacara pemakamannya, segala pertanyaan memenuhi otakku. Pertanyaan yang semuanya mengarah pada, apakah aku bahagia dengan semua yang aku punya saat ini. Aku mencari jawabannya, ketika dengan teman-temanku aku mungkin bisa berkata, aku bahagia. Tapi, tidak ketika aku sedang sendiri. aku merasa hampa, kosong. Sampai pada suatu hari, aku bermimpi, berdiri diatas papan seluncurku lagi sambil bertelanjang dada.  Mencoba menaklukkan ombak dan di tepi pantai kamu meneriaki namaku. Saat itu, aku tahu, aku rindu Bali. Tapi, aku malu, si anak pantai yang sudah bosan dengan pantai. Si anak pantai yang tega meninggalkan pantai. Apa mungkin masih bernyali kembali ke Bali.”
Luh menyimak setiap perkataan yang meluncur dari mulut Dhru.”Tapi, si anak pantai yang pernah meninggalkan pantai itu, masih bernyali nyatanya.”
Dhru mengle napas.”Aku bernyali, hanya malu saja menemui pantai. Dengar derunya, dia seperti menertaawakanku.”
            “Orang tuamu menamaimu Dhru, deru. Kamu nggak bisa menolak, kamu terlahir dari orangtua yang mencintai ombak, kamu bahkan mendapatkan beasiswa selama sekolah karena kamu mampu menaklukan ombak dengan papan seluncurmu. Meski tak ada darah Bali yang mengalir pada darahmu, tetap saja kamu terlahir disini, di Bali,”ucap Luh sambil menyentuh punggung tangan Dhru.”Ombak itu bukan sedang menertawakanmu, Dhru. Mereka sedang bahagia, sahabat yang hilang itu telah kembali.”
            Dhru menatap pantai dengan tatapannya yang sudah digenangi airmata. Luh, gadis itu, yang selalu bisa membuatnya menangis ketika tak ingin menangis.
Luh memandang kearah yang sama dengan yang Dhru pandang.”Sejauh apapun kamu berjalan, sebanyak apapun tempat kamu singgahi. Setiap hati tahu, kemana dia harus kembali, ke rumahnya. Bali, rumahmu.”
            Luh benar, tak ada tempat paling nyaman dan membahagiakannya selain rumahnya, Bali. Akhirnya, tak ada lagi keraguan untuknya kembali pada kota kelahirannya. Kota dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Bali, nyatanya terlalu sulit untuk dia tinggali. Dan, mana mungkin dia tinggali. Ditempat ini semua kebahagiaan seakan mengantri untuk menghampirinya dan ia hampiri. Dan, Bali, tempat ini terlalu beruntung dicintai oleh seorang gadis semanis, Luh.
            “Aku harus pulang, sudah terlalu malam..”
Belum sempat Luh menyelesaikan ucapannya. Dhru menahannya untuk tetap disini dan menghabiskan makanan yang sudah dingin.”Kamu belum memakan makananmu, Luh.”
Luh tersenyum, ia pun menuruti ucapan Dhru. Suap demi suap ia menghabiskan makanan dihadapannya.”Aku harus segera pulang, Dhru.”
            “Tidak bisakah kamu tinggal disini lebih lama. Aku akan meminta izin dengan bapakmu karena sudah mengajakmu pergi hingga selarut ini.”
            Luh memalingkan pandangannya dari tatapan Dhru. Sebuah rahasia besar ia simpan. Luh bingung, harus dengan cara apa dia menjelaskannya pada Dhru, cinta masa kecilnya yang tak pernah sadar telah dicintainya lama.”Dari kepergianmu, hanya satu yang membuatku marah besar dengan kamu. Aku kehilangan kontak dengan kamu. Dua tahun lalu, bapak sakit dan membutuhkan biaya banyak. Kamu tahu kondisi ekonomi keluargaku. Aku mencoba menghubungimu untuk meminta bantuan. Tapi, nomor kamu nggak aktif. Sampai akhirnya ibu pinjam uang dengan temannya. Sayangnya, bapak nggak tertolong. Aku dan ibu bingung harus membayar pakai apa. Semenjak kamu pergi dari Bali, aku hilang kontak dengan bapak ibumu, aku pernah coba kerumahmu tapi kata tentanggamu keluarmu sudah pindah ke Ubud. Aku tunggu di pantai biasa mereka mengajar surfing, tapi katanya mereka sudah nggak lagi ngajar. Sampai akhirnya..”Luh sudah tidak bisa bercerita lebih banyak lagi.
Jantung Dhru tiba-tiba berdetak lebih cepat.”Apa?”
Luh mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk kembali meneruskan cerita.”Aku menikah dengan Made, anak teman ibu. Dan sepuluh bulan lalu, aku melahirkan seorang anak laki-laki, namanya, Deru, seperti namamu,”Luh menatap wajah Dhru.”Aku pulang, Made menungguku diparkiran sejak tadi. Maafkan aku, Dhru.”
            Dhru kehilangan kata-kata untuk penjelasan yang baru saja dia dengar dari Luh. Gadis hitam manis dengan senyumanya yang teramat manis itu telah termiliki. Suara anak kecil tertawa ketika ia menelefon siang taadi itu adalah Deru, anak Luh. Dhru merasa seluruh badannya lemas. Hingga tak bisa membuat Luh untuk berada disini lebih lama dengannya.

            Bali selalu membawanya pada nostalgia masa kecilnya. Ketika tak ada kebahagiaan lain selain bercumbu dengan pantai. Bahagia, rasanya untuk dia saat ini sangatlah sederhana. Melihat matahari terbit dan tenggelam di pantai Bali. Mendengarkan deru ombak yang saling bersautan satu dan lainnya. Menikmati terik matahari Bali yang mencoba menggelapkan kembali kulitnya. Entah sudah berapa kali dia mengunjungi dan menikmati pantai nusa dua. Dia hanya berdiri saja, melihat ombak yang seakan mengajaknya untuk kembali bisa mengalahkannya.
            “Hei, anak pantai yang pernah meninggalkan pantai. Rupanya sedang kangen dengan pantai.”
Dhru menoleh, tiga orang sedang memberikan senyuman termanis untuknya. Seorang wanita berambat panjang dengan kulit sawo matang yang begitu eksotik, seorang pria berbadan tegap yang sedang mengandeng seorang anak kecil ditengah mereka. Dan, anak kecil itu, anak kecil yang kini sudah berusia lima tahun itu sedari tadi memamerkan gigi susunya sembari menarik tangan kedua orang dewasa disebelahnya. Deru, Luh mengenalkan nama anak lelaki itu padanya. Anak lelaki yang ternyata anaknya dengan Made.
Deru anak kecil itu berlari menghampirinya.”Ajari aku berselancar, anak pantai.”
Anak pantai, Dhru melirik kearah Luh, wanita itu pasti yang menceritakan tentangnya pada malaikat kecilnya itu. Deru, sekilas ada wajah Luh diwajah anak itu, mata, senyum dan cara dia menatap lawan bicara adalah khas dari seorang Luh.”Sudah siap bermain dengan ombak?”
Anak itu menoleh kearah kedua orang tuanya. Lalu, tak lama mereka menganggukkan kepala. Setelah itu, Deru kembali memandangnya sambil mengacungkan ibu jarinya.”Bawa aku kesana,”tunjuknya kearah pantai.