"Ini punya siapa?"
"Itu mama sisakan untuk kamu. Kamu pasti belum makan? Lain kali makan saja. Jangan bertanya ini punya siapa?."
Dia tersenyum. Tak lama makanan itu di lahap abis oleh nya. Lapar.
Yaa.. sudah sore hari tapi perut nya baru terisi lagi. Dia terlalu
sibuk. Nasi hangat, ayam goreng dan sambal sudah tersaji di hadapannya.
Cacing-cacing di perut nya pun sudah tidak sabar untuk ikut menikmati
nya. Tidak butuh waktu lama, semua makanan itu sudah berpindah ke dalam
perutnya. Lalu dia membuka kulkas. Didalam situ sepotong pudding coklat
kesukaannya begitu menggoda seleranya. Tinggal sepotong, milik siapa
ini?
"Ma.. pudding coklat punya siapa?"
Lagi-lagi dia bertanya seperti itu. Rasanya ini sudah menjadi ritual wajib untuknya.
"Makan saja, selama makanan itu terbuang ke perut mama tidak akan marah. Jangan bertanya seperti itu terus, nak!"
Dia kembali mengembangkan senyuman manisnya.
Sudah sering mama nya mengingatkan seperti itu. Tapi, dia tetap
bertanya. Setidaknya untuk membuat hatinya tenang. Ini pun beralasan.
Kejadian ketika dia masih di bangku SMP adalah awal dari semua nya.
***
Ketika itu dia baru saja pulang sekolah. Seragam putih biru masih
melekat di tubuhnya bercampur keringat. Ya.. siang itu matahari terlalu
arogan menyinari bumi.
"baru pulang?"tanya Om nya berbasa-basi.
Dia mengangguk seraya menyeka keringat di keningnya.
Dia berjalan masuk untuk berganti pakaian dan membasuh mukanya. Om nya menghampirinya dari belakang.
"Ada bakso di meja, kamu makan saja."
Dia tersenyum. Kebetulan dia sudah lapar dan mama nya sedang tidak
masak. Dia pun mengambil sebungkus bakso yang dibilang Om nya itu. Baru
saja dia mengaduk sekali bakso itu di mangkuk. Sayup-sayup terdengar.
"Bakso yang di meja mana? Mau aku pindahin buat si kakak nanti kalo
pulang kuliah,"tante nya itu berkata dengan volume yang cukup membuatnya
mendengar percakapan itu.
"Di kasih ke.."
Belum selesai Om ku melanjutkan ucapannya. Dia menghampiri Om dan tante nya sambil membawa mangkuk bakso itu.
"Maaf, tante ini bakso nya. Belum aku makan kok."
Tante nya memandangi nya dengan tatapan yang dia sendiri pun tidak mengerti bermakna apa.
"Abisin saja!"
Dia duduk menghabisi bakso itu. Setelah itu, dia mencari uang di
saku seragam nya. Hanya ada lima ratus rupiah. Harga bakso ini pasti dua
atau tiga ribu rupiah. Dia mencari-cari sisa kekurangnnya di tas dan
dompetnya. Hanya terkumpul dua ribu lima ratus rupiah. Siang itu, dia
berjalan mencari penjual bakso untuk menggantikan bakso milik tante nya.
Untung saja, tak jauh dari rumah ny ada penjual bakso. Dengan uang
pas-pasan nya dia pun mendapatkan sebungkus bakso. Sesampainya di rumah,
tante nya itu sedang tertidur di kamarnya. Dia merasa tak enak hati
membangunkan tante nya. Akhirnya dia menuliskan pesan dalam secarik
kertas di samping bakso itu.
"Sekali lagi, aku minta maaf karena udah makan bakso punya kakak.
Sebagai ganti nya ini bakso buat kakak. Nggak pedas dan kecap nya
banyak. Seperti yang selalu kakak pesan kalau beli bakso."
Tidak ada air mata. Tidak ada kekesalan.
***
Sejak saat itu, dia selalu berhati-hati. Sejak saat itu pula dia selalu bertanya. Ini punya siapa?.
Senin, 20 Mei 2013
Curhat
Dia menghela nafas. Lalu mulai bercerita.
"Aku mengenalnya pada sebuah keramaian di suatu malam. Rambut panjangnya terurai sampai di pinggangnya. Senyumnya, aku bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. Terlalu sempurna. Malam itu, dia duduk disebuah kedai kopi. Disampingnya ada temannya, mereka bercengkrama. Aku hanya bisa memandanginya dari seberang jalan. Menikmati senyumnya dari balik lampu-lampu kendaraan. Ahh, andai kamu melihat betapa memesonanya dia. Lalu, tak lama dia berjalan. Ya, Tuhan kaki semampai itu mendekati ku. Dia berjalan ke tempat dimana aku sedang menikmati senyumnya, disini. Di sebuah kedai roti bakar. Dia duduk tidak jauh dari tempat ku. Kamu tahu, jantungku berdetak tidak normal. Tangan ku dingin. Kaki ku lemas. Keringat ku tak terkontrol. Jangan tertawai aku. Aku tahu ini konyol bahkan tolol. Karena dia, aku seperti ABG yang baru saja jatuh cinta. Memalukan. Sekuat tenaga aku menguasai diriku. Mengumpulkan nyaliku untuk sekadar mengulurkan tangan dan bertanya siapa namanya. Saat itu, waktu begitu cepat berjalan. Dia berdiri mengambil roti bakar pesanannya, dan pergi. Bodoh! aku menampar sendiri pipi ku. Bisa-bisa nya kesempatan seperti itu aku sia-sia kan. Hey, kamu tertawakan aku lagi? Ya, aku tahu kamu akan menyebutku bego. Tapi tunggu dulu. Skenario Tuhan tidak berhenti sampai disitu saja. Saat itu aku memutuskan untuk pulang. Baru saja aku melangkahkan beberapa langkah kaki ku. Sebuh dompet tidak sengaja ku injak. Aku membukanya, kamu tahu? itu dompet miliknya. Namanya, Velota Chanita. Nama yang cantik seperti orangnya. Besoknya aku datang ke alamat yang tertera di dompetnya. Siang itu, dia membukakan pintu untukku. Sebuah t-shirt biru dan hot pans hitam melekat di tubuh semampainya. Rambut panjang nya dia ikat. Aku mematung melihatnya. Tuhan terlalu sempurna memahat setiap lekuk wajahnya bahkan tubuhnya. Lalu, aku menjelaskan maksud kedatangan ku ini untuk mengembalikan dompet miliknya. Dari situ, aku dan dia mulai dekat dan yang bisa kamu lihat sekarang. She's my fiance."Dia tersenyum mengakhiri ceritanya. Matanya berbinar. Sangat indah."Lalu, ceritakan cinta mu."
***
Aku membenarkan posisi duduk ku."Aku..? Bohong kalau orang-orang bilang cinta itu semuanya indah. Yang terjadi padamu, mungkin indah. Tapi aku? miris, tragis, atau apalah itu namanya. Kamu boleh percaya atau tidak. Aku hanya punya satu mimpi. Aku ingin jadi ibu dari anak-anaknya. Dia bukan orang baru di hidupku. Sudah terlalu banyak waktu yang ku habiskan dengan nya. Dan, sudah banyak air mata juga yang menetes karena dia. Tatapan matanya selalu bisa membuat ku tenang. Ketika dia menatap ku. Aku merasa ada kekuatan magis yang meyakini ku kalau aku tidak sendiri dan aku akan baik-baik saja. Pelukkannya selalu saja hangat, selalu menenangkanku. Mungkin, Tuhan terlalu menjadikan ku manusia yang pintar menyimpan perasaan. Aku mulai merasa ada yang aneh dengan perasaan ku ini sejak seragam putih biru masih aku kenakan. Sekarang? Kamu tahu sendirilah. Selama itu, aku mengunci hatiku untuk orang lain. Hati ini untuk dia. Dia seorang. Tapi, mencintainya tidak semudah menyelesaikan soal matematika. Ini lebih sulit, bahkan aku selalu merasa buntu. Tapi hanya merasa saja. Hatiku ini seperti pejuang zaman penjajahan Belanda. Pantang sekali menyerahnya. Aku benci pada hatiku sendiri. Entah sudah berapa hati wanita dia hinggapi. Entah sudah berapa banyak hati wanita dia patahkan. Dan aku? aku hanya menjadi saksi betapa senyumnya begitu memesona ketika dia jatuh cinta dan ucapannya begitu kejam ketika dia patah hati. Entah sudah berapa kali itu bergantian terjadi. Sampai pada akhirnya, tepatnya beberapa waktu lalu, keputusan terbesar dia ambil. Keputusan yang mungkin akan menjadi akhir dari semua petualangan dia mencari bidadari hatinya. Bahkan mungkin akan menjadi akhir dari cinta diam-diam ku, atau mungkin juga menjadi awal dari sebuah luka baru yang akan ku rasakan. Aku hanya bisa mendoakannya. semoga di berbahagia dengan keputusannya dan aku pun bisa begitu. Meski sesungguhnya aku pun tidak yakin. Aku bisa sejatuh cinta ini pada lelaki lain. Entahlah."Mataku memanas, tapi aku tidak akan mengizinkan air mata ini jatuh di depan matanya. Tidak!
***
Dia beranjak menghampiriku yang duduk di hadapanya. Pelukkannya masih sama, hangat. Dan air mataku pun ternyata lebih kuat dariku. Air mata itu terjatuh, aku segera menyekanya. Dia tidak boleh lihat!. Tidak!
***
"Aku mengenalnya pada sebuah keramaian di suatu malam. Rambut panjangnya terurai sampai di pinggangnya. Senyumnya, aku bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. Terlalu sempurna. Malam itu, dia duduk disebuah kedai kopi. Disampingnya ada temannya, mereka bercengkrama. Aku hanya bisa memandanginya dari seberang jalan. Menikmati senyumnya dari balik lampu-lampu kendaraan. Ahh, andai kamu melihat betapa memesonanya dia. Lalu, tak lama dia berjalan. Ya, Tuhan kaki semampai itu mendekati ku. Dia berjalan ke tempat dimana aku sedang menikmati senyumnya, disini. Di sebuah kedai roti bakar. Dia duduk tidak jauh dari tempat ku. Kamu tahu, jantungku berdetak tidak normal. Tangan ku dingin. Kaki ku lemas. Keringat ku tak terkontrol. Jangan tertawai aku. Aku tahu ini konyol bahkan tolol. Karena dia, aku seperti ABG yang baru saja jatuh cinta. Memalukan. Sekuat tenaga aku menguasai diriku. Mengumpulkan nyaliku untuk sekadar mengulurkan tangan dan bertanya siapa namanya. Saat itu, waktu begitu cepat berjalan. Dia berdiri mengambil roti bakar pesanannya, dan pergi. Bodoh! aku menampar sendiri pipi ku. Bisa-bisa nya kesempatan seperti itu aku sia-sia kan. Hey, kamu tertawakan aku lagi? Ya, aku tahu kamu akan menyebutku bego. Tapi tunggu dulu. Skenario Tuhan tidak berhenti sampai disitu saja. Saat itu aku memutuskan untuk pulang. Baru saja aku melangkahkan beberapa langkah kaki ku. Sebuh dompet tidak sengaja ku injak. Aku membukanya, kamu tahu? itu dompet miliknya. Namanya, Velota Chanita. Nama yang cantik seperti orangnya. Besoknya aku datang ke alamat yang tertera di dompetnya. Siang itu, dia membukakan pintu untukku. Sebuah t-shirt biru dan hot pans hitam melekat di tubuh semampainya. Rambut panjang nya dia ikat. Aku mematung melihatnya. Tuhan terlalu sempurna memahat setiap lekuk wajahnya bahkan tubuhnya. Lalu, aku menjelaskan maksud kedatangan ku ini untuk mengembalikan dompet miliknya. Dari situ, aku dan dia mulai dekat dan yang bisa kamu lihat sekarang. She's my fiance."Dia tersenyum mengakhiri ceritanya. Matanya berbinar. Sangat indah."Lalu, ceritakan cinta mu."
***
Aku membenarkan posisi duduk ku."Aku..? Bohong kalau orang-orang bilang cinta itu semuanya indah. Yang terjadi padamu, mungkin indah. Tapi aku? miris, tragis, atau apalah itu namanya. Kamu boleh percaya atau tidak. Aku hanya punya satu mimpi. Aku ingin jadi ibu dari anak-anaknya. Dia bukan orang baru di hidupku. Sudah terlalu banyak waktu yang ku habiskan dengan nya. Dan, sudah banyak air mata juga yang menetes karena dia. Tatapan matanya selalu bisa membuat ku tenang. Ketika dia menatap ku. Aku merasa ada kekuatan magis yang meyakini ku kalau aku tidak sendiri dan aku akan baik-baik saja. Pelukkannya selalu saja hangat, selalu menenangkanku. Mungkin, Tuhan terlalu menjadikan ku manusia yang pintar menyimpan perasaan. Aku mulai merasa ada yang aneh dengan perasaan ku ini sejak seragam putih biru masih aku kenakan. Sekarang? Kamu tahu sendirilah. Selama itu, aku mengunci hatiku untuk orang lain. Hati ini untuk dia. Dia seorang. Tapi, mencintainya tidak semudah menyelesaikan soal matematika. Ini lebih sulit, bahkan aku selalu merasa buntu. Tapi hanya merasa saja. Hatiku ini seperti pejuang zaman penjajahan Belanda. Pantang sekali menyerahnya. Aku benci pada hatiku sendiri. Entah sudah berapa hati wanita dia hinggapi. Entah sudah berapa banyak hati wanita dia patahkan. Dan aku? aku hanya menjadi saksi betapa senyumnya begitu memesona ketika dia jatuh cinta dan ucapannya begitu kejam ketika dia patah hati. Entah sudah berapa kali itu bergantian terjadi. Sampai pada akhirnya, tepatnya beberapa waktu lalu, keputusan terbesar dia ambil. Keputusan yang mungkin akan menjadi akhir dari semua petualangan dia mencari bidadari hatinya. Bahkan mungkin akan menjadi akhir dari cinta diam-diam ku, atau mungkin juga menjadi awal dari sebuah luka baru yang akan ku rasakan. Aku hanya bisa mendoakannya. semoga di berbahagia dengan keputusannya dan aku pun bisa begitu. Meski sesungguhnya aku pun tidak yakin. Aku bisa sejatuh cinta ini pada lelaki lain. Entahlah."Mataku memanas, tapi aku tidak akan mengizinkan air mata ini jatuh di depan matanya. Tidak!
***
Dia beranjak menghampiriku yang duduk di hadapanya. Pelukkannya masih sama, hangat. Dan air mataku pun ternyata lebih kuat dariku. Air mata itu terjatuh, aku segera menyekanya. Dia tidak boleh lihat!. Tidak!
***
If your regrets come sooner. This story will not have an end like this.
Oxca terus memerhatikan arloji berwarna pink yang melingkar di
tangan kirinya. Sudah satu jam dia menunggu Latan menjemputnya di
kampus. Langit sudah mulai mendung. Awan kumolonimbus sudah
berbondong-bondong datang dan suara gemuruh tiba-tiba mengagetkannya.
Satu demi satu air hujan menetes di lengannya, membasahi rambutnya juga
tubuh mungilnya. Oxca masih bertahan. Bibirnya bergetar, tangannya
sengaja dia lipat di dadanya berharap ada sedikit rasa hangat yang tubuh
nya rasakan. Giginya saling beradu hingga menciptakan bunyi getaran.
Bibirnya mulai pucat. Oxca terus bertahan dan tiba-tiba semua nya gelap.
***
Oxca membuka matanya dan menyadari tubuhnya kini sedang terbaring di suatu ranjang bersprei warna biru, ruangan bercat putih, lalu ditangan kirinya tertanam jarum suntik yang tersambung dengan selang infus. Tidak lama seorang wanita berjalan menghampirinya.
"Saya kenapa sus?"
Dia tersenyum, sambil mengecek tubuh nya."Kamu tadi pingsan, kamu demam. Dimana keluarga mu?"
Oxca menghela nafas."Saya disini kost. Handphone saya?"
Suster itu membuka lemari kecil.disebelah tempat tidur."Tas kamu basah sedang saya jemur. Untung Handphone kamu nggak rusak. Kalau tas mu sudah kering saya antarkan."
Oxca tersenyum lalu mengucapkan terimakasih kepada suster baik hati itu. Lalu dia mencoba menghubungi Latan. Sekali, dua kali, tiga kali. Oxca tidak berhasil menghubungi Latan. Latan tidak mengangkat telefon nya. Kemana dia?.
***
Dua hari sudah Oxca berada di rumah sakit. Selama itu juga Latan tidak bisa dia hubungi. Dan, hari ini ketika tubuhnya sudah bisa diajak beraktivitas lagi. Oxca mencari Latan dikelasnya, tidak ada. Teman-temannya bilang kalau Latan di kantin. Oxca berjalan ke kantin. Latan sedang bersenda gurau dengan seorang wanita. Siapa dia?
"Latan?"
Latan menoleh kearah ku. Diluar dugaan ku. Latan bersikap dingin.
"Dia siapa?"
"Namanya Kaliya, mantan ku."tanpa berdosa Latan mengenalkannya pada Oxca.
Jadi dia Kaliya yang selalu Latan ceritakan. Tanpa harus mengobrol banyak, Oxca sudah banyak tahu tentang Kaliya. Latan terlalu semangat jika bercerita tentang Kaliya. Bahkan,wajahnya bisa berubah menjadi ceria ketika ada nama Kaliya diantara obrolan mereka. Kaliya, mantannya yang cantik, pintar yang sempat meninggalkannua karena harus kuliah di Australia.
***
Oxca masih punya hati. Dia memang terlalu lemah dihadapan Latan. Dia meninggalkan Latan dan Kaliya. Dalam hati nya dia berharap Latan mengejarnya. Tapi, berharap seperti itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Latan tetap tidak bergeming. Kaliya sudah membuat Latan lupa kalau Oxca masihlah kekasihnya. Air mata Oxca begitu lancang menetes di pipinya. Tidak! dia tidak boleh menangis.
***
"Kenapa kamu mau tahu banget. Kaliya nggak secerewet kamu. Aku ini pacar kamu bukan suami kamu. Aku nggak harus kasih tahu kamu kemarin aku dimana dan sama siapa!"
Mata Oxca memanas, lelaki yang dia kenal baik hati itu bis berkata seperti itu?. Bahkan Latan tidak mnyuruhnya untuk duduk. Sekuat tenaga Oxca menahan air mata yang tergenang di sudut matanya.
"Apa aku masih menjadi pacar mu?"
"Jangan memperlihatkan kelemaham mu dihadapan ku."
Oxca mendongakkan kepalanya."Lalu aku ini siapa mu. Tolong jelaskan."
Latan terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Oxca.
Cukup lama Latan terdiam. Sebelum akhirnya Oxca menyerah pada dirinya sendiri. Dia meninggalkan Latan sendiri di kantin.
Kali ini air mata Oxca lebih kuat. Dia pun akhirnya menyerah. Seperti ada awan kumolonimbus di matanya. Air mata nya begitu deras mengalir.
***
Seperti ada perang didalam batin nya. Satu sisi dia ingin bertanya kabar pada Latan. Disisi lain, Oxca ingin Latan tahu bagaimana rasanya diabaikan. Perlahan dia.menguatkan hatinya. Meyakini, kalau Latan adalah untuknya.maka Tuhan akan mendekatkannya, juga sebaliknya. Sudah beberapa kali dia berpapasan dengan Latan. Oxca mengabaikannya, dia berjalan lurus. Matanya tidak mengarah pada Latan yang diam-diam memerhatikannya. Sehari, seminggu dan sebulan sudah mereka tidak saling sapa. Oxca sudah terbiasa dengan kesendiriannya tanpa kehadiran Latan. Tapi, Latan. Entah bagaimana kabarnya.
***
Oxca mendapatkan kabar kalau Latan mengalami kecelakaan dari temannya. Perasaannya tidak bisa dibohongi. Oxca khawatir dengan kondisi Latan. Bagaimana pun Latan pernah jadi bagian dari hidup nya. Pernah dia cintai dan mungkin Latan juga pernah mencintainya. Oxca berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah sakit. Dan sampailah dia pada suatu ruangan. Didalam sana Latan sedang terbaring lemah. Bahunya patah dan kaki kirinya.mengalami luka parah. Oxca masuk menghampiri Latan. Dia sedang tertidur. Tidak ada yang menunggu nya siang itu. Suster bilang orang tua nya sedang pulang dulu ke rumahnya. Oxca menatap wajah Latan, sesekali dia menyeka rambut lelaki yang mungkin sudah menjadi mantan nya. Merasakan tubuhnya dsentuh oleh seseorang. Latan terbangun.
"Hey,"sapa Latan dengan suara nya yang masih lemah.
Oxca menarik tangannya."Maaf."
Latan menggelengkan kepala."Aku yang minta maaf. Karena.sudah menyakiti mu."
Andai saja ucapan itu terucap sebelum hati nya membeku. Sebelum perasaannya untuk Latan benar-benar mati. Mungkin hari ini menjadi hari terindah untuk Oxca.
"Kamu masih kekasihku kan?"tanya Latan sambil berkaca-kaca."Aku salah sudah membandingkan mu dengan Kiyala."
"Kita berteman saja."
Air mata Latan menetes. Mungkin itu adalah air mata penyesalan. Tapi sayangnya, nasi sudah menjadi bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi, tapi bubur juga bisa lebih lezat. Dan, hanya menjadi sahabat mungkin akan lebih baik buat Oxca dan Latan.
***
Dan hari-hari berikutnya Latan hanya bisa melihat Oxca tersenyum manis tapi bukan untuknya. Melainkan untuk seorang pria beruntung yang kini berada di samping Oxca. Andai Latan tidak dibutakan oleh Kiyala. Mungkin Oxca masih melengkungkan senyuman manisnya untuk dia, hanya dia, Latan.
***
***
Oxca membuka matanya dan menyadari tubuhnya kini sedang terbaring di suatu ranjang bersprei warna biru, ruangan bercat putih, lalu ditangan kirinya tertanam jarum suntik yang tersambung dengan selang infus. Tidak lama seorang wanita berjalan menghampirinya.
"Saya kenapa sus?"
Dia tersenyum, sambil mengecek tubuh nya."Kamu tadi pingsan, kamu demam. Dimana keluarga mu?"
Oxca menghela nafas."Saya disini kost. Handphone saya?"
Suster itu membuka lemari kecil.disebelah tempat tidur."Tas kamu basah sedang saya jemur. Untung Handphone kamu nggak rusak. Kalau tas mu sudah kering saya antarkan."
Oxca tersenyum lalu mengucapkan terimakasih kepada suster baik hati itu. Lalu dia mencoba menghubungi Latan. Sekali, dua kali, tiga kali. Oxca tidak berhasil menghubungi Latan. Latan tidak mengangkat telefon nya. Kemana dia?.
***
Dua hari sudah Oxca berada di rumah sakit. Selama itu juga Latan tidak bisa dia hubungi. Dan, hari ini ketika tubuhnya sudah bisa diajak beraktivitas lagi. Oxca mencari Latan dikelasnya, tidak ada. Teman-temannya bilang kalau Latan di kantin. Oxca berjalan ke kantin. Latan sedang bersenda gurau dengan seorang wanita. Siapa dia?
"Latan?"
Latan menoleh kearah ku. Diluar dugaan ku. Latan bersikap dingin.
"Dia siapa?"
"Namanya Kaliya, mantan ku."tanpa berdosa Latan mengenalkannya pada Oxca.
Jadi dia Kaliya yang selalu Latan ceritakan. Tanpa harus mengobrol banyak, Oxca sudah banyak tahu tentang Kaliya. Latan terlalu semangat jika bercerita tentang Kaliya. Bahkan,wajahnya bisa berubah menjadi ceria ketika ada nama Kaliya diantara obrolan mereka. Kaliya, mantannya yang cantik, pintar yang sempat meninggalkannua karena harus kuliah di Australia.
***
Oxca masih punya hati. Dia memang terlalu lemah dihadapan Latan. Dia meninggalkan Latan dan Kaliya. Dalam hati nya dia berharap Latan mengejarnya. Tapi, berharap seperti itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Latan tetap tidak bergeming. Kaliya sudah membuat Latan lupa kalau Oxca masihlah kekasihnya. Air mata Oxca begitu lancang menetes di pipinya. Tidak! dia tidak boleh menangis.
***
"Kenapa kamu mau tahu banget. Kaliya nggak secerewet kamu. Aku ini pacar kamu bukan suami kamu. Aku nggak harus kasih tahu kamu kemarin aku dimana dan sama siapa!"
Mata Oxca memanas, lelaki yang dia kenal baik hati itu bis berkata seperti itu?. Bahkan Latan tidak mnyuruhnya untuk duduk. Sekuat tenaga Oxca menahan air mata yang tergenang di sudut matanya.
"Apa aku masih menjadi pacar mu?"
"Jangan memperlihatkan kelemaham mu dihadapan ku."
Oxca mendongakkan kepalanya."Lalu aku ini siapa mu. Tolong jelaskan."
Latan terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Oxca.
Cukup lama Latan terdiam. Sebelum akhirnya Oxca menyerah pada dirinya sendiri. Dia meninggalkan Latan sendiri di kantin.
Kali ini air mata Oxca lebih kuat. Dia pun akhirnya menyerah. Seperti ada awan kumolonimbus di matanya. Air mata nya begitu deras mengalir.
***
Seperti ada perang didalam batin nya. Satu sisi dia ingin bertanya kabar pada Latan. Disisi lain, Oxca ingin Latan tahu bagaimana rasanya diabaikan. Perlahan dia.menguatkan hatinya. Meyakini, kalau Latan adalah untuknya.maka Tuhan akan mendekatkannya, juga sebaliknya. Sudah beberapa kali dia berpapasan dengan Latan. Oxca mengabaikannya, dia berjalan lurus. Matanya tidak mengarah pada Latan yang diam-diam memerhatikannya. Sehari, seminggu dan sebulan sudah mereka tidak saling sapa. Oxca sudah terbiasa dengan kesendiriannya tanpa kehadiran Latan. Tapi, Latan. Entah bagaimana kabarnya.
***
Oxca mendapatkan kabar kalau Latan mengalami kecelakaan dari temannya. Perasaannya tidak bisa dibohongi. Oxca khawatir dengan kondisi Latan. Bagaimana pun Latan pernah jadi bagian dari hidup nya. Pernah dia cintai dan mungkin Latan juga pernah mencintainya. Oxca berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah sakit. Dan sampailah dia pada suatu ruangan. Didalam sana Latan sedang terbaring lemah. Bahunya patah dan kaki kirinya.mengalami luka parah. Oxca masuk menghampiri Latan. Dia sedang tertidur. Tidak ada yang menunggu nya siang itu. Suster bilang orang tua nya sedang pulang dulu ke rumahnya. Oxca menatap wajah Latan, sesekali dia menyeka rambut lelaki yang mungkin sudah menjadi mantan nya. Merasakan tubuhnya dsentuh oleh seseorang. Latan terbangun.
"Hey,"sapa Latan dengan suara nya yang masih lemah.
Oxca menarik tangannya."Maaf."
Latan menggelengkan kepala."Aku yang minta maaf. Karena.sudah menyakiti mu."
Andai saja ucapan itu terucap sebelum hati nya membeku. Sebelum perasaannya untuk Latan benar-benar mati. Mungkin hari ini menjadi hari terindah untuk Oxca.
"Kamu masih kekasihku kan?"tanya Latan sambil berkaca-kaca."Aku salah sudah membandingkan mu dengan Kiyala."
"Kita berteman saja."
Air mata Latan menetes. Mungkin itu adalah air mata penyesalan. Tapi sayangnya, nasi sudah menjadi bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi, tapi bubur juga bisa lebih lezat. Dan, hanya menjadi sahabat mungkin akan lebih baik buat Oxca dan Latan.
***
Dan hari-hari berikutnya Latan hanya bisa melihat Oxca tersenyum manis tapi bukan untuknya. Melainkan untuk seorang pria beruntung yang kini berada di samping Oxca. Andai Latan tidak dibutakan oleh Kiyala. Mungkin Oxca masih melengkungkan senyuman manisnya untuk dia, hanya dia, Latan.
***
Untuk dia, karya pahat Tuhan yang ku panggil, Raksasa
"Dia berjalan dengan jaket dan tas hitam yang melekat di tubuh nya."
Dan nyatanya kekaguman itu tidak hanya seumur jagung. Aku bertemu dengannya setahun lalu. Ketika Ujian Tengah Semester, tepatnya. Aku semester dua dan dia, semseter enam. Kala itu dia berjalan sambil menggenggam ponsel pintarnya. Tubuhnya menjulang. Aku pun harus mendongakkan kepala ku untuk melihat wajahnya. Dia berjalan gontai bersama satu temannya. Lalu, dia masuk ke kelas yang sama dengan ku. Aku menghela nafas. Tatapan ku terpaku pada sosoknya. Satu hal yang saat itu aku bayangkan, bola basket dan ring nya. Dia anak basket? Melihat dia seperti melihat Sandy CLS Knights. Tidak mirip memang tapi nyaris. Tingginya, kulitnya yang hitam manis dan entahlah. Konsentrasi ku buyar. Dia duduk tak jauh denganku. Sesekali aku memandanginya. Dia sedang membungkukkan tubuhnya dan menarikan pena diatas kertas jawabannya. Kaki kanannya sengaja dia luruskan kedepan. Sesekali di menoleh ke teman disebelahnya. Siapa dia? Sampai sekarang akupun tidak tahu. Sulit sekali menggali informasi tentangnya. Jangan tanyakan aku berapa nomer handphone nya. Karena nama nya pun aku tidak tahu. Bahkan, untuk melihatnya aku harus bersabar. Dihari-hari biasa tidak ada sosoknya diantara teman-temannya. Tiga bulan sekali dan itu pun hanya tiga hari. Waktu berjalan cepat bahkan terkesan sangat cepat. Sampai pada akhirnya aku semester empat dan dia semester delapan. Semseter terakhir nya. Akhir tahun ini mungkin dia di wisuda. Dan dia tidak bisa ku lihat lagi. Raksasa, aku menyebutnya seperti itu. Sebelum kamu menjadi sarjana. Sebelum akhirnya aku tidak bisa benar-benar tidak bertemu dengan mu.Tidak bisakah kamu menyebutkan siapa nama mu, Raksasa?
-Untuk dia, karya pahat Tuhan yang ku panggil, Raksasa-
Dan nyatanya kekaguman itu tidak hanya seumur jagung. Aku bertemu dengannya setahun lalu. Ketika Ujian Tengah Semester, tepatnya. Aku semester dua dan dia, semseter enam. Kala itu dia berjalan sambil menggenggam ponsel pintarnya. Tubuhnya menjulang. Aku pun harus mendongakkan kepala ku untuk melihat wajahnya. Dia berjalan gontai bersama satu temannya. Lalu, dia masuk ke kelas yang sama dengan ku. Aku menghela nafas. Tatapan ku terpaku pada sosoknya. Satu hal yang saat itu aku bayangkan, bola basket dan ring nya. Dia anak basket? Melihat dia seperti melihat Sandy CLS Knights. Tidak mirip memang tapi nyaris. Tingginya, kulitnya yang hitam manis dan entahlah. Konsentrasi ku buyar. Dia duduk tak jauh denganku. Sesekali aku memandanginya. Dia sedang membungkukkan tubuhnya dan menarikan pena diatas kertas jawabannya. Kaki kanannya sengaja dia luruskan kedepan. Sesekali di menoleh ke teman disebelahnya. Siapa dia? Sampai sekarang akupun tidak tahu. Sulit sekali menggali informasi tentangnya. Jangan tanyakan aku berapa nomer handphone nya. Karena nama nya pun aku tidak tahu. Bahkan, untuk melihatnya aku harus bersabar. Dihari-hari biasa tidak ada sosoknya diantara teman-temannya. Tiga bulan sekali dan itu pun hanya tiga hari. Waktu berjalan cepat bahkan terkesan sangat cepat. Sampai pada akhirnya aku semester empat dan dia semester delapan. Semseter terakhir nya. Akhir tahun ini mungkin dia di wisuda. Dan dia tidak bisa ku lihat lagi. Raksasa, aku menyebutnya seperti itu. Sebelum kamu menjadi sarjana. Sebelum akhirnya aku tidak bisa benar-benar tidak bertemu dengan mu.Tidak bisakah kamu menyebutkan siapa nama mu, Raksasa?
-Untuk dia, karya pahat Tuhan yang ku panggil, Raksasa-
Manusia-manusia di persimpangan
Terkadang, aku pun tidak bisa memahami konsep Tuhan tentang
takdir. Bagaimana mungkin, dalam sekejap. Semuanya bisa berubah tanpa
bisa aku kendalikan. Kamu pergi, tanpa pernah menjelaskan apa alasannya.
Dan aku hilang arah, tidak tahu kemana harus ku berjalan. Luruskah?
berbelokkah, kanan atau kiri? atau berhenti saja. Aku memilih menunggu
mu, di sebuah persimpangan diantara kanan dan kiri. Berharap, kamu
kembali lalu membawa ku kearah yang seharusnya aku tapaki. Waktu! aku
bergelut dengan waktu. Aku tidak bisa menghentikannya. Sudah lama aku
menunggu mu. Sampai pada suatu ketika. Aku bertemu seseorang di
persimpangan jalan itu. Dia tidak semenarik mu. Bahkan aku bisa
mengatakannya dia biasa saja. Tapi dia memberikan uluran tangannya
untukku. Meyakini ku untuk kembali mencoba menapaki jalan menuju cahaya.
Yang selalu kamu gambarkan dengan sangat indah. Aku tidak memedulikan
rupanya. Juga tidak memedulikan tatapan mereka yang memandang kami tidak
biasa. Cahaya itu perlahan terlihat, meskipun masih samar-samar.
Setapak demi setapak. Cahaya itu semakin nyata. Kamu benar cahaya itu
indah, percis seperti yang pernah kamu katakan. Semakin dekat dengan
cahaya. Aku melihat siluet yang begitu ku kenali. Senyum itu tidak
pernah berubah, masih sama. Dan kau kembali, lalu mengulurkan tangan mu.
Aku mencoba meraih uluran tanganmu. Tapi tangan kiri ku begitu erat dia
genggam. Aku melihat matanya. Ada bulir airmata yang tergenang di
kelopak matanya. Aku benar-benar dipersimpangan. Kini bukan lagi kanan
dan kiri. Tapi, kau dan dia. Haruskah aku membalas uluran tanganmu yang
sempat meninggalkan ku dipersimpangan. Atau berjalan maju dengan dia
yang mengantarkan aku pada cahaya. Aku tidak ingin berada disini,
dipersimpangan.
***
Karena tidak semua manusia terlahir bernyali besar. Begitupun dengan mu. Maafkan aku yang telah menyeret mu pada sebuah persimpangan. Menarikmu pada sebuah pilihan, aku atau mimpi besar mu. Aku terima semua keputusanmu. Meski mungkin, keputusan mu berbeda dengan mau ku. Kamu meneruskan mimpi mu dan melepaskan aku. Atau meneruskan kita namun menomor duakan mimpi mu. Sulit! Tanpa harus kamu jelaskan. Aku pun sudah tahu. Tatapan mu begitu dalam. Seolah kamu sedang menerangkan ragu mu yang sulit aku terjemahkan. Tapi aku mencoba untuk mengartikannya. Lalu, entah apa yang membuatku terlalu yakin. Dipersimpangan ini, biarlah ego menjadi juara nya. Berjalanlah kemana langkah kaki mu ingin melangkah. Begitupun dengan ku. Membiarkan Tuhan menjadi sutradara terbaik pada cerita dua manusia disebuah persimpangan. Biarlah Tuhan yang menentukan, di titik temu mana kita akan kembali. Bukan dipersimpangan.
***
Hari ini pun akhirnya datang. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk aku tunggu dan menagih janji. Di sebuah persimpangan jalan tidak jauh dari SMA ku dulu. Lalu, kenapa harus dipersimpangan?. Karena disini, kebetulan itu terjadi. Setiap pagi, aku selalu turun dari angkot di persimpangan ini. Lalu siang nya, aku pun menunggu angkot yang sama di tempat ini. Kebetulan, dia pun sama. Sekolah kita berbeda. Dari persimpangan ini, aku belok kanan dan dia belok kiri. Tapi, kebetulan bernama takdir itu melibatkan aku dan dia. Tuhan pertemukan aku dan dia disini, dipersimpangan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya dia bernyali menyapa ku.Waktu berjalan cepat. Waktu dan takdir seolah berkonspirasi. Ada cinta diantara aku dan dia. Namun, cinta tidak selalu berjalan mulus. Jarak yang mengambil alih kendali dan bertugas mengujinya. Sebelum dia pergi, kita berjanji untuk bertemu di tempat ini, di tanggal yang sama, empat tahun yang akan datang, hari ini.
Dan, aku berada disini untuk janji itu. Tidak ada yang berubah dari tempat ini masih ramai anak-anak berseragam putih abu-abu dan angkot yang saling berebut penumpang. Hanya saja, sudah ada halte yang berdiri diantara persimpangan ini. Aku menunggu. Konyol memang, tapi janji tetaplah janji. Walau setelah kepergiannya tidak ada satu pun kabar aku dengar tentang nya. Tapi sudahlah, aku hanya ingin memenuhi janji ku. Aku tidak peduli dia lupa atau bahkan sengaja melupakannya. Alam tahu, aku sedang menepati janji ku. Aku mulai pesimis, matahari mulai meninggi. Dia tidak kunjung datang. Tapi entah mengapa, kaki dan hati ini enggan untuk melangkah pergi. Aku masih menunggunya. Hingga langit mulai berlembayung. Dia belum juga datang. Aku beranjak meninggalkan tempat ini.
"Tunggu!"
suara itu terdengar terengah-engah. Aku menoleh kebelakang.
"Aku belum terlambat kan? Maaf sudah membuat kamu menunggu lama."
Dia menjelaskan sambil mengatur nafasnya.
"Kamu tidak salah. Aku yang sudah terlalu tidak sabar untuk bertemu dengan mu. Aku kira aku yang bodoh, percaya pada janji mu empat tahun lalu. Tapi ternyata kamu datang."
Dia berdiri disampingku. Canggung."Aku yang bodoh kalau lupa dengan janji ku sendiri untuk bertemu masa depan ku disini, dipersimpangan."
***
***
Karena tidak semua manusia terlahir bernyali besar. Begitupun dengan mu. Maafkan aku yang telah menyeret mu pada sebuah persimpangan. Menarikmu pada sebuah pilihan, aku atau mimpi besar mu. Aku terima semua keputusanmu. Meski mungkin, keputusan mu berbeda dengan mau ku. Kamu meneruskan mimpi mu dan melepaskan aku. Atau meneruskan kita namun menomor duakan mimpi mu. Sulit! Tanpa harus kamu jelaskan. Aku pun sudah tahu. Tatapan mu begitu dalam. Seolah kamu sedang menerangkan ragu mu yang sulit aku terjemahkan. Tapi aku mencoba untuk mengartikannya. Lalu, entah apa yang membuatku terlalu yakin. Dipersimpangan ini, biarlah ego menjadi juara nya. Berjalanlah kemana langkah kaki mu ingin melangkah. Begitupun dengan ku. Membiarkan Tuhan menjadi sutradara terbaik pada cerita dua manusia disebuah persimpangan. Biarlah Tuhan yang menentukan, di titik temu mana kita akan kembali. Bukan dipersimpangan.
***
Hari ini pun akhirnya datang. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk aku tunggu dan menagih janji. Di sebuah persimpangan jalan tidak jauh dari SMA ku dulu. Lalu, kenapa harus dipersimpangan?. Karena disini, kebetulan itu terjadi. Setiap pagi, aku selalu turun dari angkot di persimpangan ini. Lalu siang nya, aku pun menunggu angkot yang sama di tempat ini. Kebetulan, dia pun sama. Sekolah kita berbeda. Dari persimpangan ini, aku belok kanan dan dia belok kiri. Tapi, kebetulan bernama takdir itu melibatkan aku dan dia. Tuhan pertemukan aku dan dia disini, dipersimpangan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya dia bernyali menyapa ku.Waktu berjalan cepat. Waktu dan takdir seolah berkonspirasi. Ada cinta diantara aku dan dia. Namun, cinta tidak selalu berjalan mulus. Jarak yang mengambil alih kendali dan bertugas mengujinya. Sebelum dia pergi, kita berjanji untuk bertemu di tempat ini, di tanggal yang sama, empat tahun yang akan datang, hari ini.
Dan, aku berada disini untuk janji itu. Tidak ada yang berubah dari tempat ini masih ramai anak-anak berseragam putih abu-abu dan angkot yang saling berebut penumpang. Hanya saja, sudah ada halte yang berdiri diantara persimpangan ini. Aku menunggu. Konyol memang, tapi janji tetaplah janji. Walau setelah kepergiannya tidak ada satu pun kabar aku dengar tentang nya. Tapi sudahlah, aku hanya ingin memenuhi janji ku. Aku tidak peduli dia lupa atau bahkan sengaja melupakannya. Alam tahu, aku sedang menepati janji ku. Aku mulai pesimis, matahari mulai meninggi. Dia tidak kunjung datang. Tapi entah mengapa, kaki dan hati ini enggan untuk melangkah pergi. Aku masih menunggunya. Hingga langit mulai berlembayung. Dia belum juga datang. Aku beranjak meninggalkan tempat ini.
"Tunggu!"
suara itu terdengar terengah-engah. Aku menoleh kebelakang.
"Aku belum terlambat kan? Maaf sudah membuat kamu menunggu lama."
Dia menjelaskan sambil mengatur nafasnya.
"Kamu tidak salah. Aku yang sudah terlalu tidak sabar untuk bertemu dengan mu. Aku kira aku yang bodoh, percaya pada janji mu empat tahun lalu. Tapi ternyata kamu datang."
Dia berdiri disampingku. Canggung."Aku yang bodoh kalau lupa dengan janji ku sendiri untuk bertemu masa depan ku disini, dipersimpangan."
***
Tentang Aku lalu kamu
Kukira, aku
akan biasa-biasa saja lepas darimu. Tapi, ternyata tidak. Kusangka, tanpamu aku
bisa merasa lebih bahagia, ternyata tidak, aku salah. Apakah ini sebuah
penyesalan? Ingin sekali aku berkata, iya. Tapi hubungan ini berakhir
ditanganmu. Tidakkah kau saja yang menyesal? Lalu mengajakku untuk kembali
memulai hubungan ini lagi. Aku harap seperti itu.
Banyak hal yang
aku lalui tidak biasa dihariku. Bertahun-tahun hal sederhana yang kau lakukan
berubah menjadi sebuah kebiasaan yang selalu kutunggu untuk kau lakukan lagi.
Sederhananya, aku kehilangan sapaanmu ketika pagi hari. Tidak hanya itu saja,
masih banyak hal-hal kecil yang mengingatkanku denganmu. Semua tidak kutemui
lagi dihari-hariku yang semakin terasa biasa saja.
Aku seperti
hilang arah. Tak tahu harus kemana aku berjalan melanjutkan hidupku. Majukah?
Tapi aku tidak tahu harus menapaki arah yang mana. Terlalu banyak persimpangan
didepan mataku. Atau, mundur saja? ini
berarti sama saja aku tidak bisa berpaling darimu. Yang sedang ku lakukan saat
ini adalah berjalan ditempat. Tidak maju pun tidak mundur. Tidak melupakanmu
juga mengingatmu.
Katanya, orang
baru akan menolongku untuk terbebas darimu. Tapi, kenapa aku merasa aku terlalu
jahat jika melakukan itu. Tidak. Jangan paksa aku untuk menyuruh orang lain
mengobati lukaku. Menyambung setiap kepingan hatiku yang telah dibuat
berantakan karenamu. Biar saja, biar luka ini sembuh terobati waktu, perlahan
demi perlahan. Aku tidak peduli ini akan memakan waktu lama. Karena mencintaimu
pun bukan perkara satu atau dua hari saja.
Terserah mereka
akan menertawakanku atas keputusan yang kuambil ini. Perasaan ini, aku yang
merasakan. Kutahu, semua akan indah pada waktunya.
aku salah aku lelah aku menyerah
Kalau ada yang
harus disebut orang yang kalah. Hanya akulah, orangnya. Tidak peduli seberapa
besar cinta yang aku punya untuk kamu. Aku tetap saja kalah. Dia, si pemilik
mata sendu yang jika tersenyum matanya berubah berbinar seperti cahaya bintang
ketika malam hari itu, pemenangnya. Dia yang sudah berani memperlihatkan hal
yang tidak pernah berani aku perlihatkan. Aku tidak ingin bersedih, karena ini
sepenuhnya salahku. Kamu tidak salah dan kamu tidak harus bertanggung jawab.
Cinta ini
memang tidak seharusnya aku rasakan. Cinta seharusnya tidak pernah aku pancing
untuk aku dapatkan. Cinta ini seharusnya tidak pernah ada dan aku pelihara.
Tapi, ini juga tidak sepenuhnya salah cinta. Ini salahku. Seharusnya aku tidak
memaknai lebih semua perhatianmu. Semua tatapanmu yang kuartikan berbeda.
Terlebih genggaman tanganmu. Aku kira, aku tidak akan melangkah sejauh ini.
Tapi cinta, tidak hanya membawaku melangkah jauh pun membawa ku terbang ke
negeri antah berantah dan akupun tidak tahu dengan cara apa aku bisa kembali.
Cinta ini
menyiksa, terlebih karena aku yang memperlakukannya salah. Cinta ini harusnya
bahagia, tapi ditanganku, cinta ini tak ubahnya seperti nestapa. Salahku yang
tidak tahu, bagaimana harus menyimpan cinta namun tetap merasa bahagia.
Bagaimana harus tetap tersenyum meski cinta menorehkan luka.
Aku yang kalah.
Cinta? Bisakah
kau membawaku kembali kepada perasaanku seperti semula sebelum kau datang?.
Seperti ketika aku memaknai biasa semua perlakuannya. Atau ketika aku masih
menganggapnya hanya sebatas, teman. Cinta.. aku salah.. aku lelah.. aku kalah..
dan, aku menyerah..
Langganan:
Entri (Atom)
